JAKARTA - Pemerintah menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai lebih dari USD45 miliar atau setara Rp807 triliun (kurs: 17.940) pada 2026. Target tersebut ditopang keberhasilan kebijakan hilirisasi yang mendorong lonjakan nilai ekspor nikel dari sekitar USD3,3 miliar pada 2017-2018 menjadi lebih dari USD40 miliar pada 2025.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, hilirisasi menjadi instrumen penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
"Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional," ujar Bahlil dalam acara Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD dikutip, Kamis (15/10/2026).
Menurut Bahlil, perkembangan ekspor nikel menunjukkan perubahan signifikan setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.
Nilai ekspor nikel yang sebelumnya berada di kisaran USD3,3 miliar pada 2017–2018 meningkat menjadi USD34 miliar pada 2023. Nilai tersebut kemudian melampaui USD40 miliar pada 2025, sehingga pemerintah membidik capaian yang lebih tinggi pada tahun ini.
Peningkatan tersebut mencerminkan upaya pemerintah menggeser pola ekspor dari penjualan bahan mentah menjadi produk hasil pengolahan yang memiliki nilai tambah lebih besar.