Daya Beli Masyarakat Lemah, Dunia Usaha 'Menangis'

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 07 Juli 2017 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 07 320 1730745 daya-beli-masyarakat-lemah-dunia-usaha-menangis-QaYOcCNgts.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Daya beli masyarakat yang lemah menekan kinerja dunia usaha. Sejumlah pelaku usaha menyatakan kinerja bisnis tahun ini lebih lemah dibanding tahun lalu. Mereka berharap peran pemerintah mendorong kenaikan daya beli masyarakat.

Pertumbuhan sektor ritel modern pada paruh pertama tahun ini kurang menggembirakan. Setelah kuartal I-2017 kinerjanya under performance lantaran pertumbuhannya minus 12-15%, pada kuartal II yang semestinya menjadi tumpuan karena adanya momen bulan puasa dan Lebaran, kinerjanya juga meleset dari harapan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey meng ungkapkan, pada April 2017 pertumbuhan ritel berkisar pada angka 4,1%-4,2%, lalu menurun ke level 3,5%-3,6% pada Mei.

Selanjutnya pekan pertama dan kedua Juni yang merupakan bulan puasa, sektor ritel juga menurun drastis. Sektor ritel dimaksud mencakup minimarket, super market, hipermarket, department store, dan wholesale atau kulakan.

“Minggu pertama dan kedua Juni rata-rata pertumbuhan minimarket minus 1-1,5%, sedang kan supermarket dan hiper market minus 11-12%,” ujarnya kemarin.

Roy menyebut beberapa hal yang menyebabkan penurunan tersebut, di antaranya masyarakat sekarang sudah lebih smart, sehingga lebih paham kapan harus belanja dan kapan harus menahan atau menunda pembelanjaan. Saat ini yang terjadi masyarakat cenderung menahan pem belanjaan. Sejalan dengan itu, pola belanja masyarakat juga sudah berubah.

Roy belum bisa memastikan kapan sektor ritel bisa pulih ke normal lagi. Peran pemerintah untuk menstimulasi daya beli masyarakat menjadi salah satu kuncinya. Misalnya dengan mempertahankan harga energi, penurunan suku bunga, mengendalikan harga kebutuhan pokok, serta menjaga inflasi.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyata kan, penurunan daya beli masyarakat berdampak terhadap penjualan sepeda motor periode Januari hingga Mei 2017 turun.

“Hingga Mei penjualan nasional (anggota AISI) minus 5% dibandingkan tahun lalu,” ujar Ketua Bidang Niaga AISI Sigit Kumala.

Dia mengungkapkan, meski kondisi tahun ini secara keseluruhan hingga akhir tahun lebih baik di bandingkan 2016, AISI mem perkirakan penjualan motor nasional selama 2017 akan turun 4%.

“Tahun lalu sektor riil kurang bergerak (tumbuh), begitu pula sektor komoditas. Tahun ini dua sektor itu kondisinya lebih baik, namun penjualan full year kami perkirakan masih turun 4%,” paparnya.

AISI berharap dengan bergeraknya sektor riil pada semester kedua tahun ini daya beli masyarakat akan meningkat. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menuturkan, penjualan tekstil domestik selama semester pertama 2017 memang melemah.

Meski begitu, kalangan pabrikan masih mampu menyiasatinya dengan meng genjot ekspor. “Daya beli di pasar domestik menurun, namun ekspor naik. Makanya kita perbesar mengirim ke pasar ASEAN,” ujarnya.

Ada menunjukkan bahwa kalangan usaha tekstil masih diselamatkan tahun ajaran baru sekolah dan gaji ke-13 PNS. “Yang menyelamatkan hanya dua faktor itu, usai libur sekolah, belanja baju atau pakaian baru. Terutama karena gaji ke- 13 juga memberikan pengaruh, meski tidak cukup signifikan,” ungkapnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berujar, pemerintah tidak memiliki strategi jangka pendek untuk mendorong permintaan. Kendati demikian, pemerintah yakin daya beli masyarakat akan pulih dalam waktu dekat.

“Kami bisa menyampaikan perbaikan ekspor dalam beberapa bulan terakhir akan menambah penghasilan dari masyarakat, terutama ekspor yang berasal dari perkebunan dan industri,” katanya.

Menko menambahkan, hingga akhir 2017 konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5,1% dari prediksi awal 5%. Penguatan konsumsi tersebut juga akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,1% menjadi 5,2%.

Menko juga yakin laju ekonomi kuartal II-2017 akan lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. “Jadi, kami tidak harus dengan stimulus khusus untuk menggerakkan ekonomi. Kalau ekonomi sedang bergerak, biarkan dia melahirkan kemampuan permintaan dari masyarakat berdasarkan perkembangan ekonomi itu,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Menko menyatakan bahwa pemerintah juga berupaya menekan inflasi berada di level yang rendah. Pada semester II-2017 pemerintah menunda kenaikan tarif dasar listrik, bahan bakar minyak (BBM), gas elpiji tiga kilogram untuk mengurangi lonjakan inflasi harga yang di atur oleh pemerintah (administered prices).

“Tekanan cukup tinggi dari administered prices bahwa inflasi akan cenderung naik, tapi pemerintah juga berusaha keras dalam pengendalian volatile food,” ujar Menko.

Penundaan kenaikan tersebut membuat pemerintah menambah alokasi subsidi dalam draf Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2017. Tahun ini, subsidi listrik, BBM, dan elpiji naik masing-masing Rp7 triliun, Rp300 miliar, dan Rp18,5 triliun.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro menyebutkan, pemerintah tetap menjaga daya beli masyarakat kelas bawah lewat program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan nontunai, hingga subsidi energi secara tepat sasaran.

Selain itu, pengendalian inflasi dinilainya juga menjadi kunci untuk mengurangi angka kemiskinan. Menurut Bambang, terkendalinya inflasi bahan makanan, terutama beras, sangat penting dalam menurunkan angka kemiskinan.

“Kontribusi bahan makanan terhadap pengeluar an masyarakat bawah itu 73% dan beras menyumbang ter besar yaitu 22% di samping rokok yang juga tinggi,” katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini