Share

Waspada! Industri Pulp Terus Direcoki, Investor Berpotensi Kabur ke Negara Lain

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 15 Agustus 2017 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 15 320 1756167 waspada-industri-pulp-terus-direcoki-investor-berpotensi-kabur-ke-negara-lain-H7hRV17pfB.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Permintaan kertas dunia saat ini meningkat pesat seiring naiknya biaya konversi dari bubur kertas ke kertas yang mencapai USD250 per ton. Situasi ini menguntungkan Indonesia yang memiliki sejumlah industri bubur kertas dan kertas yang terintegrasi.

”Kondisi tersebut berdampak positif bagi Indonesia yang memiliki sejumlah industri bubur kertas dan kertas terintegrasi,” ujar pengamat industri bubur kertas dan kertas Rusli Tan di Jakarta, Senin 14 Agustus 2017.

Baca juga: Kesulitan Pasokan, Pabrik Kertas dan Pulp Bakal Impor Bahan Baku

Sayangnya, lanjut dia, banyak pihak melakukan kampanye negatif terhadap industri bubur kertas (pulp) dan kertas nasional. ”Saat perekonomian sedang lesu dan ada peluang memberikan sumbangan devisa yang besar, seharusnya Merah Putih dikedepankan,” katanya.

Dia mengatakan, tak mudah mengelola industri terintegrasi mulai dari pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) hingga pabrik bubur kertas dan kertas. Tak heran jika perusahaan yang dikelola pemerintah pun tak bisa bertahan. Dengan kesulitan tersebut, lanjut Rusli, sudah selayaknya jika industri yang ada saat ini diberi kesempatan berkembang.

Rusli mengingatkan, jika industri bubur kertas dan kertas di Tanah Air sampai tutup, maka yang rugi adalah masyarakat karena kehilangan lapangan kerja dan negara kehilangan devisa.

Baca juga: Wow! Produksi Kertas Indonesia Kuasai Nilai Ekspor dalam 2 Tahun

”Kalau terus direcoki, investor industri kertas bisa memindahkan pabrik ke Vietnam, Myanmar, China, atau negara lain. Mereka tidak rugi. Ini sudah terjadi pada industri tekstil dan sepatu,” katanya.

Apalagi, kata Rusli, pengelolaan HTI, termasuk yang berada di lahan gambut sebagai sumber bahan baku industri bubur kertas dan kertas, kini semakin membaik. Terbukti, dengan bebasnya areal pengelolaan HTI dari kejadian kebakaran besar pada 2016 hingga saat ini.

”Pengelola HTI sudah berinvestasi besar untuk mencegah kebakaran lahan. Ini harus diapresiasi,” kata dia.

Sementara pakar ilmu tanah dan sumber daya lahan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Basuki Sumawinata, menegaskan bahwa perusahaan HTI sejatinya mengelola lahan gambutnya dengan baik. Saat ini pengelolaannya semakin baik terlihat dari minimnya kasus kebakaran.

Salah satu penyebabnya adalah penguatan aspek sosial dalam pengelolaan lahan, misalnya dengan pengembangan kerja sama dengan masyarakat. Hal ini terbukti efektif bisa menekan kebakaran hutan dan lahan gambut.

Baca juga: Pabrik Kertas Ditargetkan Operasional 2017

”Kebakaran terjadi karena api merembet dari luar konsesi. Tidak ada perusahaan yang mau membakar konsesinya,” katanya.

Basuki menyayangkan kampanye negatif dari kalangan LSM terus terjadi meski pengelolaan gambut semakin baik.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini