Share

Napak Tilas BCA, Mesin Uang Keluarga Hartono

Anisa Anindita, Okezone · Jum'at 01 Desember 2017 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 01 320 1823640 napak-tilas-bca-mesin-uang-keluarga-hartono-SQiaw4ftr2.jpg Ilustrasi BCA. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Hartono bersaudara kembali menjadi orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Kekayaan pemilik Djarum ini meningkat sebagian besar berkat kenaikan nilai saham mereka di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang hampir mencapai 50%.

Robert Budi Hartono yang memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong (berada di urutan ke-5). Robert merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia. Kakaknya bernama Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang. Michael dan Budi Hartono mencatatkan kekayaan sebesar USD32 miliar atau Rp426,33 triliun (kurs Rp13.322,98 per USD) pada 2017.

Djarum merupakan grup usaha yang berbasis di Kudus-Jawa Tengah dan didirikan oleh Oei Wie Gwan, orang Lasem yang awalnya mendirikan pabrik rokok dan pabrik petasan di Jalan Bitingan Kudus. Djarum merupakan sebutan jarum gramafon, menjadi merek produk rokok dari pabrik bernama sama yang didirikan pada 21 April 1951.

Awalnya, Wie Gwan hanya memiliki 10 karyawan yang lalu sukses sebesar sekarang. Selepas dia wafat pada 1963, bisnisnya diwarisi ke dua anaknya Oei Gwi Siong (Michael Bambang Hartono) dan kakaknya Oei Hwi Tjong (Robert Budi Hartono).

Baca Juga: Miliki Rp436,05 Triliun, Hartono Bersaudara Sabet Status Orang Terkaya Indonesia 9 Tahun Berturut-turut

Sebagai pewaris Djarum, mereka berdua terus mengembangkan bisnisnya dan akhirnya melakukan diversifikasi. Krisis keuangan yang terjadi di periode 1997-1998, nampaknya menjadi pintu kesuksesan bagi mereka.

Mereka memutuskan untuk mengambil BCA, yang awalnya didirikan oleh Liem Sudono Salim dan dikembangkan oleh Mochtar Riady. Penjualan saham BBCA bermula dari krisis ekonomi 1997, ketika terjadi rush oleh para nasabahnya karena Soedono Salim alias Liem Sioe Liong, pemegang saham mayoritasnya, diisukan meninggal. Rush baru reda setelah Liem muncul di depan umum.

Namun, kerusuhan Mei 1998 membuat nasabah Bank BCA kembali panik sehingga melakukan rush. Akibatnya, Bank BCA membatasi penarikan uang nasabah, lewat kasir Rp5 juta, ATM Silver Rp500 ribu, dan ATM Gold Rp1 Juta. Tidak kuat dengan outflow tersebut, Bank BCA akhirnya pasrah menjadi pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Kepala BPPN saat itu, Glenn MS Yusuf, menyatakan Grup Salim menerima kewajiban untuk membayar Rp35 triliun. Dengan kesepakatan ini, saham dari Grup Salim dalam Bank BCA dialihkan ke BPPN beserta uang tunai dan propertinya.

Baca Juga: Cuma Gara-Gara Ini, Kekayaan Hartono Bersaudara Meroket Jadi Rp436,05 Triliun

BCA pun berencana menjual 42% sahamnya untuk melunasi utangnya dengan harga kisaran penjualan saham BCA pada IPO di antara Rp1.350 - Rp1.750 per lembar. Artinya, target perolehan maksimal BPPN mencapai Rp1,54 triliun, hanya separuh dari target Rp3 triliun.

IPO tersebut pun ditunda dan dilanjutkan oleh Kepala BPPN baru Cacuk Sudarijanto. Cacuk pun menurunkan harga patokan saham menjadi Rp1.400 dengan alasan investor tidak berminat dengan harga semula. Akhirnya, saham BCA resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dulu kala itu masih bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Saat itu, BBPN mengumumkan penawar Bank BCA tinggal dua calon yaitu Konsorsium Standard Chartered dan Farallon Capital. Dua calon lainnya, Konsorsium Bank Mega dan Konsorsium GKBI, gugur.

Akhirnya, pada 30 sep 2007 51,15% saham BCA pun berpindah ke konsorsium FarIndo Investments (Mauritius) Ltd dan Farallon Capital Management LLC, di bawah Bambang Hartono Robert Budi Hartono. Sementara sisanya, sebesar 46,72% dilepas ke publik dan 1,76% masih milik Anthony Salim.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini