Krisis 10 Tahunan, Menko Luhut: Sampai Detik Ini Tak Ada Tanda-tandanya

Anisa Anindita, Jurnalis · Senin 08 Januari 2018 19:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 08 20 1841936 krisis-10-tahunan-menko-luhut-sampai-detik-ini-tak-ada-tanda-tandanya-aC7Zl5vRK1.jpg Menko Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Krisis ekonomi pada siklus 10 tahunan akan kembali terjadi di Indonesia pada 2018, setalah sebelumnya pada 1998 dan 2008 pernah terjadi. Meski demikian, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yakin krisis tersebut tidak akan melemahkan ekonomi Indonesia.

“Pasalnya, sampai detik ini saya tidak melihat ada tanda-tanda ekonomi kita akan bermasalah. Sama sekali tidak ada,” jelas Luhut dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (8/1/2018).

Pasalnya, jika ekonomi nasional di Indonesia akan bermasalah pasti ada tanda-tanda indikasi, namun hingga saat ini tidak ada satu pun indikator ekonomi yang mengatakan ekonomi di Indonesia akan mengalami krisis. “Malah lebih dari itu, sekarang tidak ada satu pun institusi internasional yang mengatakan Indonesia punya masalah,” tambah dia.

Baca Juga: Ekonomi Tak Capai Target, JK: Jangan Kambinghitamkan Komoditas Lagi

Menurutnya, Indonesia sudah masuk pada kelompok lima besar ekonomi dunia. Hal itu sejalan dengan ramalan The World Economic Forum dan Pricewater-House Coopers yang memproyeksikan Indonesia berada di peringkat ke-lima dengan GDP (Gross Domestic Product) sebesar USD5,424 triliun pada tahun 2030.

Angka tersebut di atas GDP negara maju, seperti Jerman atau Prancis. Sedangkan, peringkat 1 diduduki oleh Tiongkok dengan USD38,008 trliiun, dan Amerika Serikat di posisi kedua dengan USD23,475 triliun.

Artinya, program-program pemerintah sudah tepat, mengingat dari program-program pembangunan infrastruktur baik di kota maupun pedesaan, antara lain penyaluran dana desa, pengembangan pertanian, program Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, hingga Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera.

“Bicara tentang siklus bisnis di Indonesia, sebenarnya masa perlambatan ekonomi terjadi rata-rata 7 tahunan, bukan 10 tahunan. Terakhir seharusnya terjadi pada tahun 206. Tapi, pemerintah Indonesia saat itu sudah bisa mengendalikan siklus bisnis dengan baik, serta melaksanakan kebijakan fiskal, dan moneter secara tepat,” tegas Luhut.

Baca Juga: Kondisi Perekonomian Sehat, JK Heran Pertumbuhan Tak Secepat yang Diharapkan

Dia melanjutkan, jika memperhatikan dari sisi kesenjangan di Indonesia, pemerintah sudah dapat menguranginya menjadi yang lebih baik, seperti Gini Ratio yang terus menurun. Pasalnya, berdasarkan data BPS, koefisien Gini pada September 2014 masih di angka 0,414. Angka tersebut dapat bertahap menurun hingga pada September 2017 menjadi 0,391.

Kendati demikian, pada tahun ini pemerintah akan tetap menerapkan strategi ‘jemput bola’, misalnya dengan memanfaatkan keberadaan dana-dana dari luar negeri untuk mempercepar pembangunan pemerintah.

“Tidak akan sulit bagi Indonesia karena sudah memperoleh kepercayaan dunia. Buktinya adalah dengan meningkatnya rating kita oleh beberapa institusi internasional, seperti dari Fitch Ratings, naik dari BBB- menjadi BBB, Standard&Poors dari BB+ menjadi BBB, dan Moody’s Investors Service naik dari Stable menjadi Positive," kata dia.

"Saya juga optimis bahwa rating Indonesia tahun ini akan lebih baik. Dampaknya akan luar biasa karena tingkat kepercayaan investasi pada kita yang makin tinggi, tambahnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini