Share

BBM 1 Harga Bukan Alasan Pertamax Cs Naik

Ulfa Arieza, Okezone · Senin 26 Februari 2018 15:39 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 26 320 1864899 bbm-1-harga-bukan-alasan-pertamax-cs-naik-Gm0pC6dKtD.jpg Ilustrasi BBM. (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Bahan Bakar Minyk (BBM) non-subsidi pada tanggal 24 Februari 2018 lalu. Kenaikan ini menyesuaikan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia sementara kurs Rupiah belum dapat menyeimbangkan kenaikan itu.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan, kenaikan tersebut adalah langkah wajar yang dilakukan Pertamina sebagai korporasi untuk menyesuaikan harga. Dengan demikian, upaya itu akan membantu sisi finansial Pertamina di unit BBM non subsidi untuk menghindari kerugian.

Akan tetapi, soal beban Pertamina di unit BBM subsidi maupun BBM satu harga, Komaidi menyebut hal tersebut sebagai pokok permasalahan yang terpisah.

"Kalau konteksnya ke Pertamina apakah menutup BBM penugasan dan satu harga yang membebani mereka ini dua hal yang terpisah sebenarnya. Jadi tanpa adanya itu pun ini harus disesuaikan," ujarnya dalam diskusi Menelisik Kemampuan Pertamina dalam Mengelola Blok Migas Habis Kontrak, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin (26/2/2018).

"Bukan untuk menutup premium yang tidak disesuaikan dan solar yang tidak disesuaikan serta satu harga yang dibebankan kepada Pertamina," imbuh dia.

Namun, dia memandang kenaikan BBM non-subsidi sedikit meringankan beban Pertamina lantaran harga minyak terus naik. Apabila harga BBM non-subsidi tidak disesuaikan, maka dipastikan beban finansial perusahaan migas negara itu makin berat.

"Jadi intinya ada dua masalah, subsidi penugasan bermasalah, kalau masalah ini ditambah masalah baru yang non-subsidi tidak dinaikkan kan ada dua masalah. Berarti masalah makin besar. Tetapi yang di sini tidak menyelesaikan masalah yang di sana, hanya tidak menambah masalah" ujar dia.

Sekadar informasi, Pemerintah menaikan harga BBM non-subsidi terhitung sejak 24 Februari 2018 lalu, mulai dari Rp300 per liter hingga Rp750 per liter. Tercatat, harga Pertamax naik Rp300 per liter menjadi Rp8.900 per liter dari harga sebelumnya Rp8.600 per liter.

Untuk harga minyak acuan Brent (ICE) berkisar USD67,31 per barel, WTI Crude Oil berada di harga USD63,55 per liter. Sedangkan kurs Rupiah berada di angka Rp13.685 per USD.

Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Herman Khaeron menyebut langkah yang diambil Pertamina untuk menaikan harga BBM non-subsidi sesuai dengan mekanisme pasar.

"Kalau berhitung pada mekanisme pasar ya formulasinya seperti itu, ketika harga internasionalnya naik, harga pasarnya naik. Nunggu kenaikan rata-rata satu bulan, kalau tidak turun lagi dan dihitung dari harga penetapan sebelumnya ya hitungan liberalnya wajar," ujarnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Akan tetapi, untuk memberikan keseimbangan kepada daya beli masyarakat, maka Herman menilai pemerintah perlu turun tangan. "Intervensi pemerintah dari berbagai sisi bisa dilakukan. Apakah menambah subsidi atau memberikan insentif ke Pertamina sebagai penyalur, dan sebagainya,"imbuh dia.

Tidak jauh berbeda dengan Herman, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menyatakan kebijakan Pertaminan menaikan harga BBM non-subsidi merupakan langkah korporasi yang menjadi wewenang Pertamina.

"Kalau non-subsidi saya kira adalah sesuatu yang wajar yang biasa ini aksi korporasi biasa, karena dalam tiga bulan terakhir tren harga minyak meningkat kemudian nilai tukar tidak ada penguatan yang signifikan, sehingga kalau dua variabel itu mendorong harga BBM untuk meningkat, ya tidak ada pilihan lain bagi temen di hilir gas untuk harga BBM disesuaikan lagi," ujarnya.

Dia melanjutkan, untuk menilai ambang batas wajar besaran kenaikan harga, Komaidi menjelaskan harus terlebih dulu mengkaji bencmark yang digunakan Pertamina. Dua variabel utama yang digunakan untuk menentukan besaran kenaikan adalah rata-rata harga minyak acuan dan rata-rata nilai tukar Rupiah dalam beberapa bulan terkahir.

"Kalau yang dipakai teman-teman (Pertamina) kemarin ini kita belum tahu pas atau tidaknya karena kita belum tahu dasar asumsinya untuk menentukan kenaikan," jelas dia.

Sekadar informasi, Pemerintah menaikan harga BBM non-subsidi terhitung sejak 24 Februari 2018 lalu, mulai dari Rp300 per liter hingga Rp750 per liter. Tercatat, harga Pertamax naik Rp300 per liter menjadi Rp8.900 per liter dari harga sebelumnya Rp8.600 per liter.

Untuk harga minyak acuan Brent (ICE) berkisar USD67,31 per barel, WTI Crude Oil berada di harga USD63,55 per liter. Sedangkan kurs Rupiah berada di angka Rp13.685 per USD.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini