DPR Minta Pimpinan Baru Bank Indonesia Lebih Greget

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 28 Maret 2018 20:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 28 20 1879310 dpr-minta-pimpinan-baru-bank-indonesia-lebih-greget-bQXgfiPMKH.jpg Foto: Yohana

JAKARTA - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memutuskan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Dody Budi Waluyo sebagai Deputi Gubernur BI yang baru. Hal ini berdasarkan hasil musyawarah 36 anggota Komisi XI yang terdiri dari 10 fraksi.

Musyawarah dilakukan setelah keduanya melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) dengan Komisi XI. Dody diuji pada Selasa 27 Maret 2018, sedangkan Perry pada hari ini.

"Dua-duanya punya rekam jejak yang mumpuni di bidang moneter. Pak Dody juga bawahannya Pak Perry, hemat saya, ini kombinasi teamwork yang bagus, juga dengan deputi-deputi gubernur yang lain," ujar Ketua Komis XI DPR RI Melchias Markus Mekeng di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Baca Juga :  Terpilih Aklamasi, Presiden-DPR Satu Selera Pilih Perry Warjiyo Jadi Gubernur BI

Dengan mengemban jabatan baru, Mekeng pun berharap keduanya bisa sejalan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi. Dia juga meminta keduanya bisa memberikan terobosan baru lewat kebijakannya untuk menjaga nilai tukar Rupiah.

"Kita juga minta terobosan-terobosan yang lebih greget supaya nilai kurs menjadi lebih baik. Karena kita melihat bahwa ada sedikit gangguan di luar negeri, kita langsung panik. Terus dolar naik hampir Rp14.000 padahal pemerintah mengatakan ekonomi kita sedang sehat dan baik. Ini kan sesuatu yang kontradiksi," jelasnya. 

Menurut dia, bila ekonomi dalam kondisi yang sehat ditandai dengan kurs Rupiah yang baik. Hal ini, kata dia, memang karena likuiditas dolar di Indonesia sangat kurang. 

 Baca Juga : Perry Warjiyo Jadi Gubernur Baru BI, Komisi XI Titipkan Wejangan untuk Agus Marto

"Kami meminta BI untuk mengeluarkan kebijakan supaya orang-orang yang meminjam duit di Indonesia, entah Dolar atau Rupiah, mereka juga yang membuat produknya dan di ekspor, hasil ekspornya itu 100% yang masuk ke Indonesia ditukarkan dengan mata uang lokal. Sehingga dolar kita tidak krisis likuiditas," paparnya. 

Ditahun politik pada 2019 mendatang, Mekeng juga berpesan untuk ketersediaan uang kartal tak kurang. "Karena pesta demokrasi ini pasti menguras uang," ujar dia. 

Dia pun meminta, di tahun politik nanti, BI harus mampu menjaga stabilitas makroekonomi, inflasi, dan kurs Rupiah bukan dengan cara konvensional seperti hanya lakukan intervensi saat Dolar AS menguat. Mekeng tegaskan kembali, untuk BI bisa buat terobosan guna meningkatkan likuiditas dolar.

"Harus ada terobosan lain yang membuat likuiditas dolar semakin kuat di sini," ujarnya.

 (feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini