nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjelajah Eksotisme Terowongan dan Jembatan Kereta Peninggalan Belanda

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 02 April 2018 11:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 02 320 1880853 menjelajah-eksotisme-terowongan-dan-jembatan-kereta-peninggalan-belanda-ovTzXPiqBv.jpg Foto: Kereta Peninggalan Belanda (Koran Sindo)

BANDUNG - Penjajahan Belanda selama 3,5 abad tak hanya meninggalkan warisan hukum dan sistem pemerintahan. Bangsa ini juga meninggalkan infrastruktur yang cukup ekstotis terutama jalur kereta api (KA).

Salah satunya jalur KA Banjar-Pangandaran-Cijulang. Kondisi geografis yang cukup ekstrem tak membuat Belanda gentar membangun akses dari satu daerah ke kawasan lainnya di pelosok Jawa Barat.

Jalur KA Banjar-Pangandaran-Cijulang yang kini telah nonaktif merupakan salah satu dari peninggalan Belanda yang keberadaannya menyimpan banyak misteri. Ini merupakan jalur KA yang hanya memiliki panjang 82,2 km, namun dibangun dengan dana fantastis mencapai 9.583.421 Florijin/Gulden atau sekitar 116.600 gulden/kilometer.

Besarnya anggaran yang harus disiapkan lantaran jalur yang dimulai dari Stasiun Banjar dan berakhir di Stasiun Pangandaran (sekitar Pantai Pangandaran) itu, dibangun di atas kondisi geografis yang cukup ekstrem. Kawasan lembah berbukit, hutam rimba, hingga melintas di pesisir pantai. Beratnya medan yang harus dilalui tidak menjadi hambatan bagi Belanda membangun jalur ini.

“Sejumlah kalangan menyebut, pembangunan jalur KA Banjar-Pangandaran- Cijulang lebih pada proyek prestisius. Proyek ini menghabiskan biaya dua kali lipat dari rencana awal. Sementara kalau dilihat dari sisi ekonomi, hasil perkebunan Pangandaran tidak cukup bagus,” ungkap Pimpinan Kereta Anak Bangsa Aditya Adilaksana.

Kendati jalur ini hanya berjarak puluhan kilometer, namun kerumitan membuka akses KA ke Pangandaran tidak bisa dianggap enteng. Pemerintah Hindia Belanda di bawah Staatsspoorwegen (SS) siap mengucurkan uang jutaan gulden, lantaran harus membangun empat terowongan dan enam jembatan beton/baja.

Menurut Aditya, rute ini sungguh eksotis. Karena terowongan dan jembatan jalur KA terpanjang di Indonesia ada di jalur Banjar-Pangandaran-Cijulang. Sayangnya, pemerintah memilih menutup jalur ini pada periode 1981 hingga 1982 atau sekitar 30 tahun lalu.

“Untuk membangun jalur ini sangat berat karena konstruksinya cukup berat. Ada empat terowongan. Di situ ada terowongan dan jembatan terpanjang di Indonesia untuk jalur nonaktif. Terowongan yang dibangun tiga tahun lamanya pada 1913 hingga 1916,” jelas dia.

Dari Stasiun Banjar, terowongan pertama yang akan dijumpai adalah Terowongan Philip di Batulawang/Pagak/Sentiong. Jaraknya hanya beberapa kilometer dari Stasiun Banjar. Terowongan yang mengambil nama pangeran kerjaan Belanda ini memiliki panjang 281 meter dibangun pada 1814.

Terowongan kedua adalah Terowongan Hendrik sepanjang 105 meter. Terowongan ini tercatat sebagai terowongan terpendek di jalur ini. Namun kondisinya hingga kini masih berdiri kokoh dan bisa dilalui motor dan mobil.

Rel di terowongan ini nyaris telah hilang seluruhnya. Ujung terowongan Philip dan Hendrik ini masih bisa dilihat oleh mata. Cahaya sinar matahari masih bisa terlihat di sisi terowongan karena panjangnya yang terbilang pendek.

Lain halnya dengan terowongan ketiga, yaitu Terowongan Juliana atau sering disebut Terowongan Bengkok. Walaupun panjang terowongan hanya 147 meter, namun ujung terowongan ini tak terlihat karena konstruksi terowongan yang berbelok tajam. Terowongan Hendrik masih berdiri kokoh dan tampak terawat.

Walaupun di ujung kanan dan kiri penuh semak belukar. Lain halnya dengan bangunan keempat, Terowongan Wilhelmina. Terowongan ini memiliki panjang 1.116 meter, membelah batuan purba di Pegunungan Pangandaran. Kendati kontruksi terowongan ini lurus, namun ujung terowongan tak bisa dilihat mata lantaran panjangnya bangunan terowongan.

Ribuan ton batu, pasir, dan semen dihabiskan pemerintah Hindia Belanda untuk membangun terowongan ini. Belum lagi ribuan meter kubik batuan dan tanah yang digali. Namun, kuatnya konstruksi, terowongan ini masih kokoh berdiri di tengah Hutan Sumber. Tak banyak warga yang berani mask ke terowongan ini.

Wartawan yang menjajal masuk terowongan ini juga mesti dipandu tim, lengkap dengan peralatan senter dan P3K. Setidaknya perlu waktu satu jam untuk menyusuri terowongan terpanjang di Indonesia ini.

Tak selesai disuguhkan empat terowongan prestisius, jalur KA nonaktif Banjar-Pangandaran-Cijulang juga memiliki enam jembatan tinggi dan terpanjang. Konstruksi jembatan dibangun lantaran jalur ini memiliki kontur tanah berbukit dan lembah. Keenam jembatan itu adalah Jembatan Cipamotan (310 m), Cipam bo kongan (284 m), Cikabuyutan (164 m), Cikacampa (160 m), Cipanerekean baja (150 m), dan Cipanerekean beton (95 m). Keenam jembatan itu rata-rata memiliki tinggi antara 10-40 meter.

Sebagian jembatan dibangun menggunakan beton, dan sebagian lagi full baja.

“Jembatan Cipamotan atau Cikacepit memiliki panjang 310. Ini jembatan terpanjang di Indonesia. Bahkan, untuk membangun jembatan ini, bajanya langsung didatangkan dari Belanda. Untuk membangun jembatan ini diperkirakan menghabiskan 689 ton baja,” jelas dia.

Yang menarik dari jembatan-jembatan ini, sebagian besar berada di dekat terowongan. Sehingga bisa dibayangkan, penumpang kereta kala itu keluar masuk terowongan dan melintasi jembatan panjang di atas lembah setinggi lebih dari 40 meter.

Jembatan Cikacepit termasuk yang kondisinya terbilang utuh. Sementara jem - batan lainnya telah hilang. Hanya tersisa rangka dan beton. Menurut dia, jalur tersebut melewati 3 kota, yaitu Banjar, Ciamis, dan Pangandaran.

“Dulu, lama perjalanan KA hingga 4 jam melewati 17 stasiun dan halte. Tahun 75-an tarif dewasa Rp125 dan anak Rp100. Tetapi penumpang disuguhi pemandangan indah selama dalam perjalanan,” imbuh dia.

Jalur Banjar-Pangandaran- Cijulang awalnya dibangun untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. Selain itu, membuka aksesibilitas jalur selatan Jawa Barat. Rencana semula, jalur KA tersebut akan terhubung hingga Pamengpeuk, Garut. Namun rencana tersebut tak terlaksana karena krisis keuangan yang dialami Pemerintah Hindia Belanda.

Muncul Wacana Reaktivasi

Melihat potensi ekonomi dan pariwisata di Pangandaran yang terus berkembang, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendukung wacana reaktivasi jalur KA Banjar-Pangandaran- Cijulang.

Vice President (VP) Corporate Communication PT KAI Agus Komarudin mengatakan, reaktivasi jalur kereta Banjar-Pangandaran yang telah mati akan memberi efek positif bagi masyarakat. Akses transportasi akan lebih mudah dan murah.

“Kalau melihat potensi saya kira cukup bagus. Apalagi Pangandaran telah mencanang kan sebagai destinasi wisata dunia. Reaktivasi Pangandaran akan mempermudah akses ke kawasan wisata yang selama ini harus ditempuh berjam-jam menggunakan kendaraan,” kata Agus pada Napak Tilas Jalur Mati Banjar-Pangandaran- Cijulang, belum lama ini.

Akses ke Pantai Pangandaran dari Bandung saat ini hanya bisa ditempuh menggunakan mobil atau pesawat. Perlu waktu setidaknya tujuh jam untuk perjalanan Bandung-Pangandaran.

Berbeda bila akses tersebut menggunakan kereta api, diperkirakan akan lebih cepat. Saat ini, Bandung-Banjar bisa ditempuh sekitar 3,5 jam. Sementara perjalanan Banjar- Pangandaran sejah 80 km.

Menurut dia, Pangandaran termasuk salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi. Di kawasan ini terdapat pantai yang cukup indah seperti Pangandaran, Batu Hiu, Batu Karas, Wisata Grand Canyon, cagar alam, dan lainnya.

Objek wisata di Pangandaran saat ini menjadi pemasukan utama Pemerintah Kabupaten Pangandaran. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pangandaran Mahmud mengatakan, pihaknya berharap pemerintah merealisasikan rencana reaktivasi jalur KA Banjar-Pangandaran yang telah mati 30 tahun.

Beroperasinya KA menuju kawasan wisata Pangandaran akan menjadi pilihan masyarakat memilih moda transportasi.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setiawarno mengatakan, reaktivasi jalur KA Banjar- Pangandaran bisa saja dilakukan. Tetapi kurang memungkinkan bila menggunakan jalur lama. Apalagi ada spesifikasi jembatan dan terowongan yang tidak bisa lagi dipakai model kereta api modern.

“Kalau mau membuka lagi jalur itu, perlu trase yang baru. Selain itu, untuk membangun jalur ini juga sangat mahal. Solusinya, aset yang lama bisa bisa dijual untuk kepentingan pariwisata,” pungkas dia. (Arif Budianto)

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini