Perkembangan Pasar Bisnis Syariah

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 20 Mei 2018 17:48 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 20 320 1900477 perkembangan-pasar-bisnis-syariah-Eg3wSmozZ1.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Sepuluh tahun terakhir ini kita menyaksikan geliat pasar muslim di Tanah Air yang luar biasa. Perubahan cepat ini menghasilkan industri-industri baru seperti industri fashion hijab, kosmetik halal, industri budaya Islam (buku, musik, film) hingga hotel syariah yang sebelumnya seperti mati suri.

Managing Partner Inventure Yushwohady menyebut ada empat fase dalam perkembangan pasar muslim hingga sampai saat ini. Berikut rinciannya :

1. Long Sleep

Fase pertama adalah masamasa tidur panjang (long sleep ) di mana secara ukuran (size ) dan pertumbuhan (growth ) masih sangat kecil. Kalau marketer membidik sebuah pasar, dua indikator pertama yang digunakan adalah size dan growth ini. Karena masih kecil, tak mengherankan jika pasar muslim belum dilirik oleh marketer dan brand.

Baca Juga: Pemerintah Akan Tingkatkan Ekonomi Umat Melalui Toko Ritel

 Penjualan Jilbab Muslimah Melonjak pada Ramadan

Hal itu mengherankan mengingat jumlah penduduk muslim Indonesia sangat dominan, mencapai 88%. Bahkan dari sisi jumlah konsumen, Indonesia adalah pasar muslim terbesar di dunia mengungguli China dan India. Di masa ini tak banyak brand yang menarget pasar muslim dan memosisikan diri sebagai brand berorientasi Islam. Kalaupun ada pun brand tersebut tak masuk radar sebagai brand yang diperhitungkan. Wardah misalnya, walaupun sudah hadir di pasar sejak 1985, brand ini praktis terlihat hingga pasca-2000-an.

2. Market Euphoria

Kondisi di atas berubah drastis begitu kita memasuki milenium baru. Critical mass-nya terjadi menjelang tahun 2010-an di mana berbagai industri yang menarget pasar muslim tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Saya menyebutnya fase market euphoria .

Dalam buku Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) saya mengidentifikasi ada 11 industri yang berkembang sangat pesat seperti f ashion hijab, kosmetik halal, keuangan syariah termasuk emas, pendidikan dan sekolah Islam, hotel syariah, hingga zakat (ziswaf). Saat-saat ini pasar muslim menikmati masa-masa bulan madu yang sangat hot. Di sini mulai terlihat pergeseran perilaku konsumen muslim di mana apa yang saya sebut sebagai spiritual value mulai menjadi prioritas pengambilan keputusan konsumen.

Baca Juga: Menteri Bambang Inginkan Bank Syariah Bisa Selevel BCA dan Mandiri

 Penjualan Jilbab Muslimah Melonjak pada Ramadan

Yang saya maksud spiritual value adalah manfaat yang didapat oleh konsumen dari ketaatan pada ajaran Islam saat mereka mengonsumsi produk. Misalnya ketika konsumen muslim mengonsumsi makanan yang halal mereka mendapatkan spiritual value karena telah menjalankan perintah-Nya. Dengan pergeseran perilaku konsumen ini, brand pun mulai berlomba-lomba memberikan spiritual value ke konsumen dalam bentuk kehalalan produk, ketaatan syariah, atau kesesuaian dengan ajaran Nabi.

3. Shariah Deepening

Setiap euforia tentu selalu ada koreksinya. Setelah tahun 2015 beberapa industri seperti f ashion hijab, kosmetik halal, keuangan syariah, budaya (buku, musik, film), atau hotel syariah mulai terlihat kelelahan walaupun tetap tumbuh. Dalam siklus industri, hal ini wajar saja setelah sebelumnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Namun di sisi lain saya melihat ada pergeseran lain yang menarik, yaitu konsumen muslim semakin menuntut kedalaman kehalalan dan ketaatan syariah dari produk/ jasa yang dikonsumsinya. Masa-masa ini saya sebut fase sharia deepening. Fase ini ditandai dengan semakin tingginya kesadaran konsumen untuk mulai meninggalkan riba.

Baca Juga: Industri Keuangan Syariah Tumbuh 25% hingga Februari 2018

Hari Terakhir Puasa Warga Berburu Baju Bekas di Senen

Kini kian banyak komunitas-komunitas muslim yang mengampanyekan antiriba. Di sisi lain banyak juga selebritas yang berhijrah, salah satunya dengan meninggalkan riba. Harus diingat, influencing power dari para selebritas ini cukup besar karena mereka menjadi role model para fans dan followers -nya.

Di samping itu konsumen juga kian menuntut ”kedalaman kehalalan” produk yang kian tinggi di mana mereka mengharapkan kehalalan tak hanya sebatas di produk akhir, tapi juga ditelusur hingga ke sepanjang rantai nilainya (halal supply -chain ). Artinya pengecekan halal harus dilakukan mulai dari retailer , distributor, produser hingga supplier di rantai paling hulu.

4. Halal Boom

Setelah tahun 2019 saya meramalkan pasar muslim akan kian menggeliat seiring dengan diimplementasikannya Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU-JPH). Menurut undang-undang tersebut semua produk yang terkait dengan makanan, minuman, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi hingga produk rekayasa genetik di seluruh wilayah Indonesia harus memiliki sertifikat halal.

Baca Juga: Menggali Potensi Ekonomi Keuangan Syariah dengan Pesantren

Omzet Penjualan Kurma Meningkat

Artinya sejak 2019 sebuah produk akan dilarang beredar di wilayah Indonesia jika tidak besertifikat halal. Kalau undang-undang tersebut konsisten diberlakukan tanpa ada penundaan-penundaan, saya yakin kita akan menyongsong apa yang saya sebut sebagai era halal boom. (gir)

Managing Partner Inventure Yuswohady (www.yuswohady.com)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini