
Meski Suparto mengaku, produksinya tak terlalu besar, hanya membutuhkan bahan baku sekitar 50 kilogram sehari, namun kenaikan harga kedelai tersebut sangat ia rasakan. Meski pabrik tempe yang berada Pandeyan Umbulharjo itu tetap mempertahankan besaran produksi harian, namun dari segi volume, ada pengurangan.
Ukuran tempe diproduksi lebih kecil dibandingkan semula. Hal itu menurutnya dilakukan karena produsen tak dapat serta merta menaikkan harga produk. Pasalnya pedagang yang biasanya mengambil ke tempatnya bisa protes karena akan susah menaikkan harga di tingkat konsumen.
"Tempat saya kan biasanya buat kulakan pedagang Pasar Giwangan dan Beringharjo, pada enggak mau kalau harganya naik. Bisanya ya cuma ngurangi ukuran," imbuhnya.
Kendala serupa dialami oleh Rubiyono, produsen tempe yang biasanya menyetok kebutuhan Pasar Induk Wonosari. Ia mengaku harga bahan baku kedelai yang terus naik turun membuat produsen kebingungan. Hari ini, harganya telah mencapai Rp7.600 padahal menurutnya akhir pekan lalu harganya masih Rp7.400 per kilogram.