"Turun sebentar naik lagi, tidak bisa diprediksi," tuturnya.

Menghadapi kondisi tersebut, menaikkan harga menurutnya bukan keputusan yang bijak. Pasalnya persaingan antar produsen tempe kini makin ketat. Jika salah satu menaikkan harga, bisa dipastikan produsen lain akan mengambil keuntungan dengan membanting harga.
Meskipun tak banyak, namun Rubiyono mengaku hal itu akan berpengaruh pada pilihan konsumen. Konsumen tetapnya bisa berpaling dan memilih untuk membeli produk tempe lainnya yang lebih murah.
Mau tak mau, Rubiyono menyebut strategi yang bisa dilakukan produsen hanyalah mengurangi bobot produk tempenya. Ia mencontohkan dengan kemasan plastik yang ia produksi, jika biasanya tempe dibuat sepanjang 30 cm kini dikurangi menjadi 25 cm saja. Hal itu tentu juga akan berpengaruh pada bobot produknya.