Pada kereta LRT yang di datangkan Hyundai Rotten, Korea Selatan sistem operasi murni menggunakan operasi manual. Gerak maju dan berhenti mengandalkan masinis di dua sisi. Karena itu, persinyalan dan rambu dipasang di beberapa titik sehingga ketepatan masih terjaga. Hyundai Rotten bukan perusahaan sembarang.
Kualitas kereta telah teruji di beberapa negara dunia, mulai dari London, Manchester, dan beberapa kota di Amerika, Ukraina, hingga beberapa negara Eropa lainnya juga menggunakan kereta ini. “Makanya kenapa kita bikin benar-benar ke - las dunia mulai stasiun, gerbong, hingga pelayanan. Ini adalah kualitas internasional,” tuturnya.

Corporate Secretary PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah mengatakan, MRT membutuhkan bantuan feeder transportasi lain seperti Transjakarta, LRT, hingga KRL Commuter Line. Apalagi dalam fungsinya MRT bakal menjadi backbone atau tulang punggung. Artinya, MRT akan beroperasi membelah pusat kota. Mereka mengantarkan penumpang dari stasiun ke lokasi kerja.
“Makanya kita butuh integrasi. Semua terhubung dan bermuara ke MRT,” ujarnya.
MRT memiliki kapasitas penumpang lebih banyak. Dengan operasional awal enam gerbong kapasitas maksimal 300 penumpang per gerbong. MRT diyakini mampu mengangkut ribuan penumpang sekali berangkat. Nanti ada 13 stasiun yang dilintasi dari Lebak Bulus - Bundaran HI dengan estimasi waktu tempuh 30 menit. “Jaraknya 5 menit pada jam sibuk. 10 menit di jam santai, tapi semua itu bisa diatur,” kata Hikmatullah.

MRT juga menggunakan sistem operasional yang canggih. Pergerakan di rel hingga stasiun dilakukan secara otomatis. Sementara masinis hanya bertugas buka tutup pintu dan berjaga bila dibutuhkan dalam keadaan darurat. Berbeda dengan LRT yang cenderung fleksibel.
MRT jauh lebih kaku karena itu tak aneh bila stasiun MRT letaknya cenderung segaris sehingga kecepatan menjadi andalan transportasi massal ini. “Semakin panjang kereta, semakin tinggi speed yang diperlukan. Maka itu jalurnya tidak meliuk-liuk,” ungkapnya. Rel MRT cenderung lurus sehingga membuat kecepatan kereta kian tinggi. Saat di elevatad MRT mampu mencapai 80 km/jam dan di terowongan 50 km/jam. “Kalau dihajar terus akan berdampak pada kecepatan hausnya bogie , roda kereta. Itu bisa haus walaupun dia enggak pakai karet,” ucapnya. (Yan Yusuf)
(Feb)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.