nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Defisit APBN 2019 Dipatok 1,84%, Sri Mulyani: Kita Makin Hati-Hati

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 17 Oktober 2018 17:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 17 20 1965326 defisit-apbn-2019-dipatok-1-84-sri-mulyani-kita-makin-hati-hati-73tUdolJ38.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 disetujui oleh Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI).

Banggar menyetujui, dalam RAPBN 2019, asumsi yang digunakan adalah nilai tukar Rupiah yang sebesar Rp15.000 per USD.

Lewat asumsi nilai tukar Rupiah Ro15.000 per USD, nilai pendapatan negara mencapai Rp2.165,1 triliun. Angka ini terdiri dari pendapatan yang berasal dari perpajakan sebesar Rp1.786,4 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp378,3 triliun.

Sementara untuk nilai belanja pada RAPBN 2019 juga mengalami kenaikan menjadi Rp2.462,3 triliun. Angka tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.635,5 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp826,9 triliun.

Baca Juga: Tutupi Defisit, Pemerintah Akan Tarik Utang Rp359,4 Triliun Tahun Depan

Meskipun begitu, tidak ada perubahan pada nilai defisit anggaran. Artinya defisit anggaran masih tetap sebesar 1,84% dari Product Domestic Bruto atau jika dinominalkan yakni sebesar Rp297,2 triliun.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah sengaja mendesain agar defisit APBN selalu menurun setiap tahunnya. Tujuannya adalah agar pemerintah tidak lagi menarik utang terus menerus setiap tahunya.

Sebab menurutnya, utang yang dilakukan pemerintah selama ini adalah untuk menutupi defisit APBN. Artinya, semakin kecil angka defisit APBN maka semakin kecil pula nominal utang pemerintah .

"Kalau dari difisit kan sudah kita kurangin dari 2,19% RUU APBN 2018 menjadi 1,84%. Itu saja sudah menunjukan sinyal kita makin hati hati," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR-RI, Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Baca Juga: Defisit APBN 2018 Capai Rp200,2 Triliun di September

Menurut Sri Mulyani, dirinya akan tetap berusaha keras agar setiap tahunnya defisit APBN bisa turun bahkan surplus. Akan tetapi berbagai situasi dan kondisi membuat posisi pemerintah berada di persimpangan.

"Spiritnya dari pemerintah adalah pemerintah bersama dengan DPR mempunya kepentingan membuat APBN 2019 itu lebih kredibel," ucapnya.

Di satu sisi pemerintah sangat ingin menggenjot pendapatan negara agar bisa lebih besar. Namun di sisi lain, pemerintah juga harus realistis dalam menargetkan penerimaan negara ini.

"Artinya sedapat mungkin angka-angka mengenai estimasi penerimaan itu betul betul menunjukan potensi yang realistis," ucapnya.

Baca Juga: Penerimaan Negara Tembus Rp1.312 Triliun di September 2018

Selain itu, pemerintah juga ingin agar anggaran belanja tetap digenjot. Sebab, belanja bisa menjadi salah satu penopang dari pertumbuhan ekonomi.

"Di satu sisi ada ambisi dan keinginan untuk menjaga momentum perekonomian tapi di sisi lain kita juga mewadahi kebutuhan dari belanja negara maupun di daerah," jelasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini