nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Produksi Turun tapi Cost Recovery Meningkat, Ini Alasan SKK Migas

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 08 November 2018 15:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 08 320 1975095 produksi-turun-tapi-cost-recovery-meningkat-ini-alasan-skk-migas-BQ2LDFptBb.jpg Ilustrasi Produksi Minyak (Foto: Reuters)

CILOTO - Satuan Kerja dan Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) beberapa kali mendapatkan sorotan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, produksi (lifting) minyak terus mengalami penurunan, sedangkan cost recovery justru mengalami kenaikan.

Seperti diketahui, produksi minyak bumi saat ini mencapai 774 ribu barel per hari (bph), angka tersebut di bawah dari yang ditargetkan yang seharusnya bisa mencapa 800.000 barel per hari. Sementara cost recovery hingga September 2018 sudah mencapai USD8,73 miliar dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2018 sebesar USD10,09 miliar.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengatakan, hal yang menjadi penyebab utama adanya penurunan produksi minyak adalah karena usia lapangan migas sudah terlampau tua. Berdasarkan data yang dia miliki, ada sekitar 45% lapangan minyak di Indonesia yang berusia tua (25-50 tahun).

Baca Juga: 45% Lapangan Migas di RI Berusia 25 Tahun ke Atas

Sedangkan yang menjadi penyebab mengapa cost recovery justru naik adalah karena umur lapangan minyak yang juga sudah terlampau uzur. Sehingga untuk mendapatkan produksi minyak sebesar itu, harus mengeluarkan uang lebih.

Hal tersebut berbeda dengan ketika kilang minyak tersebut pertama dibangun. Ketika pertama dibangun atau jadi, kilang untuk mendapatkan produksi minyak sebesar itu, cukup mengeluarkan biaya yang sedikit saja bisa mendapatkan produskiyang melimpah.

"Kalau terus sekarang tahun 2015,2016 ditanya kok cost recovery ya naik padahal produksi turun. Itu statement salah karena lapangan migas harus dilihat dari awal sampai akhir. Dari 1999 sampai 2034," ujarnya dalam acara Sarasehan Media di Ciloto, Cianjur Jawa Barat, Kamis (8/11/2018).

Lagipula lanjut Amien, untuk menentukan naik turunnya produksi dan cost recovery minyak bumi tidak bisa hanya diukur berdasarkan periode kerja. Melainkan juga harus diperhitungkan kapan dibangun dan berakhirnya sumur minyak tersebut.

"Jadi kalau mengevaluasi lapangan kerja month to month. Sepanjang umur lapangan. Kalau dinilainya hanya bandingkan 2017-2018 saja tidak bisa gitu," ucapnya.

Baca Juga: Banyak yang Tua, SKK Migas: Saatnya Cari Sumber Minyak Baru

Di sisi lain, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) terus naik yang berujung akan membengkaknya angka impor minyak Indonesia. Jika impor terus meningkat, maka akan berdamapak kepada nilai tukar Rupiah terhadap dolar Ameriak Serikat (AS) yang melemah.

"Jadi yang harus dicari adalah bagaimana mengatasi ini ke depan," kata Amien.

Oleh karena itu, lanjut Amien, untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri harus ada penemuan cadangan minyak dengan skala besar. Namun, ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikti. Untuk biaya eksplorasi, perusahaan harus mengeluarkan uang mulai dari eksplorasi, pengeboran, pembangunam fasilitas hingga perawatan rutin selama produksi berlangsung.

"Kita sejak dulu kurang eksplorasi. Kalau dicari di APBN, pada orde lama, orde baru itu tidak ada alokasi dana untuk eksplorasi. Pada zaman reformasi ada tetapi kecil. Akhir-akhir ini saja mulai besar, tetapi itu terbukti belum mampu membuahkan penemuan lapangan migas besar," jelasnya.

 (Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini