nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Tenaga Kerja Asing dan Lokal di Sektor Migas RI Menurun, Ada Apa?

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 14:53 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 09 320 1975556 jumlah-tenaga-kerja-asing-dan-lokal-di-sektor-migas-ri-menurun-ada-apa-ikxAWU7cPw.jpg Ilustrasi Produksi Minyak (Foto: Reuters)

CILOTO - Jumlah tenaga kerja asing pada kegiatan sektor minyak dan gas (migas) di Indonesia terus berkurang. Penurunan bahkan terjadi sejak tahun 2014 yang lalu.

Manajer Senior SDM KKKS SKK Migas Daniel Kurnianto mengatakan, pada tahun 2014 jumlah tenaga kerja asing di sektor migas sebanyak 1.140 orang. Selanjutnya pada tahun 2015, menurun menjadi 1.022 orang.

Kemudian pada 2016 juga kembali turun bahkan penurunannya drastis dimana jumlah tenaga kerja asing di Indonesia pada tahun tersebut mencapai 668 orang. Kemudian pada tahun 2017, tenaga kerja asing kembali turun hingga mencapai 404 orang.

Baca Juga: Produksi Turun tapi Cost Recovery Meningkat, Ini Alasan SKK Migas

Pada tahun 2018 diperkirakan akan kembali turun lagi. Di semester I-2018 saja, jumlah tenaga kerja asing seluruh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) migas menyisakan 312 orang saja.

"Rasio penggunaan tenaga kerja asing sudah 1,25%. Bisa dibilang industri hulu migas sudah mandiri," ujarnya dalam acara sarasehan Media di Ciloto, Cianjur Jawa Barat, Jumat (9/11/2018).

Selain tenaga kerja asing, pekerja lokal juga mengalami penurunan. Penurunan tenaga kerja lokal juga terjadi sejak 2014.

Pada tahun 2014 jumlah tenaga kerja migas di Indonesia sebanyak 32.292 orang. Lalu pada 2015 turun menjadi sebanyak 31.745 orang. Kemudian pada 2016 turun lagi menjadi sebanyak 29.863 orang.

Baca Juga: 45% Lapangan Migas di RI Berusia 25 Tahun ke Atas

Pada tahun berikutnya atau di 2017 sebanyak tenaga kerja lokal kembali turun menjadi 26.811 orang. Kemudian pada semester I-2018 saja, jumlah pekerja Indonesia di sektor migas berada di angka 24.739 orang.

Menurut Daniel, turunnya tenaga kerja dalam negeri disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah banyak tenaga kerja lokal yang lebih memilih bekerja di luar negeri.

"Tantangan sekarang memang banyak tenaga kerja Indonesia lari ke luar. Harga minyak turun jadi waktu itu lari, pekerja nasional migas banyak kerja di Middle East (Timur Tengah)," jelasnya.

Oleh karena itu, SKK Migas tetap terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi pekerja lokal di Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar jumlah tenaga kerja yang pindah keluar bisa terisi kembali oleh tenaga baru.

"Mau enggak mau kalau mau menggantikan tenaga kerja asing sama orang kita. Ya harus menjadikan TKI kita jadi orang global dulu," kata Daniel.

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini