Ini Akibatnya Brexit Tanpa Kesepakatan bagi Ekonomi Dunia

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 22 Desember 2018 14:16 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 22 20 1994722 ini-akibatnya-brexit-tanpa-kesepakatan-bagi-ekonomi-dunia-kveB6isOPv.jpg Foto: Reuters

LONDON – Dengan hanya 97 hari hingga Brexit, Inggris terancam meninggalkan Uni Eropa (UE) tanpa kesepakatan. Skenario itu sangat ditakuti sebagian besar bisnis yang sekarang bersiap untuk guncangan ekonomi.

Jika parlemen Inggris menolak kesepakatan Brexit yang diupayakan Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, ekonomi terbesar kelima di dunia itu akan menghadapi tiga pilihan utama yakni membuat kesepakatan di menit terakhir, menghentikan Brexit, atau keluar dari UE tanpa kesepakatan.

Tanpa kesepakatan berarti tidak akan ada transisi sehingga proses keluar itu akan terjadi tiba-tiba. Gubernur Bank of England Mark Carney menyatakan meninggalkan UE tanpa transisi akan mirip guncangan minyak era 1970-an.

 Baca Juga: Inggris Terancam Krisis Setelah Dalang Brexit Mundur

May juga belum dapat memastikan dukungan mayoritas parlemen untuk kesepakatan Brexit yang dia buat bulan lalu bersama para pemimpin UE demi menjaga hubungan dekat Inggris dengan blok itu.

Meski demikian, para politisi Inggris tak dapat menyepakati alternatif lain dari Brexit, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa Inggris akan keluar dari UE tanpa kesepakatan, seperti yang dikhawatirkan May.

“Bisnis telah melihat dengan mengerikan saat para politisi fokus pada perselisihan yang memecah belah dibandingkan langkah-langkah praktis yang diperlukan bisnis untuk bergerak ke depan,” papar para pemimpin lima kelompok lobi bisnis terbesar di Inggris, yakni Kamar Dagang Inggris, Konfederasi Industri Inggris, Federasi Bisnis Kecil, Institut Direktur, dan organisasi manufaktur utama EEF.

Lima grup lobi itu menjelaskan bisnis saat ini mendorong rencana kontingensi pada kesepakatan itu dengan perkiraan terjadi kekacauan. Kubu pendukung UE khawatir keluarnya Inggris akan melemahkan Barat saat harus menghadapi pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang tak dapat diprediksi dan semakin agresifnya China serta Rusia.

Brexit dianggap melemahkan ekonomi Eropa dan mengeluarkan satu dari dua kekuatan nuklir di UE. Para pendukung Brexit menyatakan akan ada kekacauan sebentar, dalam jangka panjang Inggris akan semakin berkembang.

 Baca Juga: George Soros Sebut Brexit Sebabkan Inggris Alami Lose-Lose Solution

May pun meminta para pemimpin Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara mendengarkan kekhawatiran sektor bisnis dan mendukung kesepakatannya. Para pemimpin bisnis khawatir dengan adanya pemeriksaan tambahan di perbatasan Inggris dan UE sehingga akan terhambat di pelabuhan, menghambat perdagangan, memutus jaringan suplai di penjuru Eropa, dan lebih luas lagi.

“Perusahaan-perusahaan menghentikan atau mengalihkan investasi yang seharusnya dapat mendorong produktivitas, inovasi, lapangan kerja dan gaji, menjadi menimbun barang atau material, mengalihkan perdagangan lintas negara dan memindahkan kantor, pabrik, serta lapangan kerja dan pajak pendapatan keluar dari Inggris,” papar para kelompok bisnis tersebut, dilansir Reuters.

Pemerintah Inggris menyatakan pihaknya akan menerapkan rencana-rencana Brexit tanpa kesepakatan secara penuh dan mulai mengabarkan pada dunia bisnis dan warga agar bersiap dalam skenario terburuk.

Rencana itu termasuk menambah ruang untuk kapal-kapal feri demi menjamin aliran suplai medis dan menyiapkan 3.500 pasukan bersenjata untuk siap mendukung pemerintah. May telah menunda voting untuk kesepakatan Brexit hingga pertengahan Januari.

Sejumlah anggota parlemen menuduhnya mencoba memaksa parlemen mendukungnya dengan mengulur waktu mendekati batas untuk Brexit pada 29 Maret. Tanpa kesepakatan, Inggris akan berdagang dengan UE menggunakan ketentuan dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Saat Inggris bersiap meninggalkan UE, Prancis, dan India diperkirakan melampaui ekonominya tahun depan, mendorong India ke peringkat kelima, Prancis keenam dan Inggris ketujuh,” papar pernyataan firma akuntansi PwC. (Syarifudin)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini