nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Strategi OJK Hadapi Ekonomi Global di 2019

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 21:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 11 20 2003345 5-strategi-ojk-hadapi-ekonomi-global-di-2019-wPv53vm5ae.jpg Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 (Foto: Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mewaspadai ketidakpastian ekonomi global yang diprediksi masih akan terus berlanjut di sepanjang 2019. Di antaranya langkah Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed yang masih akan melanjutkan pengetatan moneter.

Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang terkoreksi ke 3,7% dari sebesar 3,9% (data International Moentary Fund/IMF).

"Ke depan memang ada yang harus tetap diperhatikan bahwa volatilitas keuangan global belum sepenuhnya normal," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 201, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Baca Juga: Di Hadapan Pelaku Industri Jasa Keuangan, Wapres JK: Kita Harus Optimistis di 2019

Dalam mewaspadai kondisi ekonomi ke depan, Wimboh memaparkan lima arah kebijakan OJK selama 2019. Pertama, memperbesar alternatif pembiayaan jangka menengah dan panjang bagi sektor strategis, baik pemerintah dan swasta, melalui pengembangan pembiayaan dari pasar modal.

Hal itu dilakukan dengan penyediaan produk pasar modal untuk pembiayaan jangka panjang yakni Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Efek Beragun Aset (EBA), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), instrumen derivatif berupa Indonesia Goverment Bond Futures (IGBF), Medium-Term-Notes (MTN), dan pengembangan produk investasi berbasis syariah, di antaranya Sukuk Wakaf.

"Kedua akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mendorong lembaga jasa keuangan meningkatkan kontribusi pembiayaan pada sektor prioritas seperti industri ekspor, substitusi impor, pariwisata maupun sektor perumahan," jelasnya.

Kemudian, OJK akan memperluas penyediaan akses keuangan bagi UMKM dan masyarakat kecil di daerah terpencil yang belum terlayani lembaga keuangan formal. Hal ini dilakukan dengan memfasilitasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ditargetkan sebesar Rp140 triliun khususnya bagi UMKM di sektor pariwisata dan ekspor.

"Pendirian Bank Wakaf Mikro menjadi sekitar 100 lembaga pada akhir tahun 2019 dan percepatan pembentukan 100 BUMDes Center di berbagai daerah bekerja," sebut dia.

Baca Juga: Komitmen OJK di 2019: Tingkatkan Jumlah Emiten hingga Jaga Stabilitas Keuangan RI

Keempat, mempersiapkan industri jasa keuangan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dengan melakukan digitalisasi produk dan layanan keuangan, juga manajemen risiko yang memadai.

Terkahir, OJK akan memanfaatkan teknologi dalam proses bisnis, baik dalam pengawasan perbankan berbasis teknologi dan perizinan yang lebih cepat. "Proses fit and proper test lebih cepat dari 30 hari kerja menjadi 14 hari kerja," katanya.

Sebagai informasi, Pertemuan Tahunan Industri Keuangan 2019 dihadiri para tokoh industri keuangan itu. Selain itu, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla, yang didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Ada juga Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini