nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak CEO Resign pada 2018, Simak Penyebabnya

Rikhza Hasan, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 14:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 11 320 2003106 banyak-ceo-resign-pada-2018-simak-penyebabnya-64AbRR45ZZ.jpg Foto: Nypost

NEW YORK - Banyak CEO di berbagai perusahaan di Amerika Serikat (AS) meninggalkan pekerjaan mereka. Job placement firm Challenger, Gray & Christmas merilis sejumlah CEO yang meninggalkan perusahaannya.

Jumlah CEO yang angkat kaki dari jabatan di 2018 merupakan yang paling banyak dibandingkan ketika krisis keuangan melanda pada 2008.

Wakil presiden perusahaan Challenger, Gray & Christmas, Andrew Challenger mengatakan, alasan terbanyak untuk meninggalkan perusahaan mereka, lantaran kekhawatiran mengenai prospek ekonomi dan pasar. Pasar saham sudah tidak lagi stabil dan juga banyak ekonom yang memperkirakan resesi sudah dekat.

Baca Juga: Mengenal Naraya Murthy, Miliarder India yang Terlahir dari Keluarga Miskin

Andrew mengatakan, kekhawatiran perdagangan terletak di sejumlah industri, termasuk sektor manufaktur dan teknologi. “Dewan perusahaan mengantisipasi berubahnya lingkungan kerja dengan menempatkan seorang pemimpin yang mampu berhasil di dalamnya,” ujarnya, dikutip dari laman CNN, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Dalam tiga bulan terakhir pada 2018, perusahaan-perusahaan di Amerika telah mengubah sebanyak 425 orang CEO. Angka tersebut hampir 45% lebih tinggi dari 294 CEO Amerika yang meninggalkan perusahaannya sepanjang 2017.

Baca Juga: Kisah Perceraian Miliarder Dunia, Nomor 5 Jadi Janda Terkaya

CEO yang paling terkenal dalam kasus meninggalkan perusahaannya, yaitu mantan CEO General Electric (GE) John Flannery dan CEO perusahaan pembuat mainan Mattel (MAT) Margo Georgiadis. Mereka dikabarkan angkat kaki pada bulan April.

Perusahaan juga mencatat dewan perusahaan secara ketat untuk menegakkan kebijakan perusahaan tentang hubungan pribadi dan masalah etika. Pasalnya, delapan CEO meninggalkan perusahaannya di tengah tuduhan pelanggaran seksual pada 2018 dan empat CEO lainnya meninggalkan perusahaan karena tuduhan pelanggaran profesional.

Salah satunya, mantan CEO Intel (INTC) Brian Krzanich, mengundurkan diri pada bulan Juni setelah perusahaan mengetahui tentang hubungan konsensual masa lalunya dengan karyawan Intel.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini