nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pembangunan Stasiun LRT Dikebut

Sabtu 12 Januari 2019 15:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 12 320 2003548 pembangunan-stasiun-lrt-dikebut-b5Nx44eCoo.jpg Foto: Koran Sindo

JAKARTA – Menjelang pengoperasian perdana light rail transit (LRT) pada Februari 2019, PT LRT Jakarta terus mempercepat finishing beberapa stasiun. Saat ini masih ada proyek pengerjaan tahap akhir seperti pembersihan seluruh stasiun hingga pemasangan lift. “Hampir mendekati akhir, mungkin sekitar 97%,” kata Direktur Utama PT LRT Jakarta Allan Tandiono kemarin.

Sebenarnya rencana pengoperasian LRT sempat bergulir saat perhelatan Asian Games 2018 lalu, namun dalam perjalanannya terjadi kendala hingga akhirnya moda transportasi berbasis rel itu segera dioperasikan bulan depan.

Baca Juga: LRT Kelapa Gading-Velodrom Beroperasi Bulan Depan

Pada pengoperasian perdana nanti LRT menargetkan jumlah penumpang setiap harinya mencapai 10.000 orang. Target tersebut diyakini tercapai lantaran integrasi dengan bus Transjakarta sudah mencapai kata sepakat. Jembatan penghubung atau skybridge akan terpasang di Stasiun Velodrom, Jakarta Timur.

Sebagai langkah awal, rencana pengoperasian rangkaian kereta akan diubah. Bila pada tahap uji coba LRT hanya menjalankan dua rangkaian, maka saat operasi nanti kereta akan di fungsikan menjadi empat rangkaian. “Secara bertahap kami akan operasikan delapan rangkaian,” ucapnya.

Siap Beroperasi Bulan Besok, Begini Penampakan Depo LRT Velodrome Rawamangun

Untuk headtime kereta, perubahan pola dilakukan demi memaksimalkan bobot penumpang. Pada jam sibuk seperti pagi dan sore LRT akan dirancang per 5 menit, sedangkan jam longgar atau sepi akan dirancang per 10-15 menit.

Menurut Allan, meski LRT bakal beroperasi pada Februari, pihaknya belum dapat mematok tarif penumpang. PT LRT Jakarta masih menunggu Pemprov DKI mengenai masalah tarif. “Soal apakah mulai bayar, tarifnya berapa, kami masih menunggu Pemprov DKI.

Pemprov akan mengumumkan bersamaan dengan MRT,” ujarnya. Belum diumumkannya tarif lantaran LRT masuk program Jak Lingko, yang di dalamnya terintegrasi dengan Transjakarta, termasuk juga mengenai rencana integrasi MRT dan Transjakarta.

Kendati tarif belum ada, dia memastikan sumber daya manusia (SDM) LRT telah siap melayani penumpang. Sebanyak 20 pegawai dimagangkan ke PT Transportasi Jakarta untuk mempelajari perilaku penumpang.

Untuk kualitas pelayanan, LRT merekrut manajer pelayanan berkualitas di bidang perhotelan. Cara ini dapat memberikan pelayanan berkualitas pada penumpang. Sebelum diturunkan dan bertatap langsung dengan penumpang, pelatihan kepada pekerja dilakukan untuk penumpang milenial.

“Nantinya pegawai LRT akan melayani penumpang layaknya karyawan hotel bintang lima melayani tamunya,” jamin Allan. Direktur Proyek PT LRT Jakarta Iwan Takwin optimistis pembangunan stasiun dan depo rampung sebelum operasi perdana pada Februari mendatang.

PT LRT terus mengebut proyek di lapangan dengan memasang lift di tiap-tiap stasiun sehingga dipastikan LRT nyaman dan aman untuk kaum disabilitas. Untuk pembangunan depo LRT di Pegangsaan Dua, instansinya tengah mempercepat beberapa pembangunan tahap akhir sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil di stasiun.

Siap Beroperasi Bulan Besok, Begini Penampakan Depo LRT Velodrome Rawamangun

“Misalnya keramik pecah itu diperbaiki semua. Tiap dua kali seminggu kami keliling memeriksa defect yang mungkin rusak sedikit. Setelah itu dilakukan general cleaning,” ujar Iwan. Pengamat transportasi Dharmaningtyas menilai LRT Jakarta hanya akan menjadi moda transportasi hiburan lantaran posisinya berada di lingkungan perumahan elite Kelapa Gading, Jakarta Utara.

“Siapa yang mau naik, orang di sana kaya-kaya. Mereka lebih pilih naik mobil dibandingkan LRT,” ucapnya. Menurut dia, LRT lebih siap menjadi moda transportasi akhir pekan pada Sabtu dan Minggu saja, saat masyarakat akan mencoba menggunakan transportasi ini untuk wisata.

Apalagi dengan jarak kurang dari dua kilometer orang akan memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi umum terlebih di ruas yang dilintasi LRT tidak ada kemacetan berarti. Karena itu, Tyas meminta Pemprov DKI lebih mengembangkan bus Transjakarta dibandingkan LRT.

(Yan Yusuf)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini