nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wapres Sindir Proyek LRT Kemahalan, Begini Penjelasan Adhi Karya

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 14 Januari 2019 13:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 14 320 2004132 wapres-sindir-proyek-lrt-kemahalan-begini-penjelasan-adhi-karya-uMxrNlyGnr.png Proyek LRT Jabodebek (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Adhi Karya (Persero) Tbk menanggapi kritikan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait mahalnya pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jabodebek.

Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan, pembangunan LRT secara elaveted sudah dilakukan dengan pertimbangan penuh. Secara kajian pembanguan LRT Jabodebek ada tiga opsi pembangunan.

Pembangunan pertama adalah di bawah tanah alias underground. Kemudian opsi kedua dibangun di atas tanah dan yang ketiga dibangun secara layang alias elevated.

"Bahwa pemilihan konstruksi elevated atau underground harus meninjau kondisi yang ada. Kalau masalah ninjau itu di atas tanah, kedua elevated, ketiga underground," ujarnya saat ditemui di Preecast LRT Adhi Pancoran, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Baca Juga: Setuju dengan JK, Menko Luhut Sebut Proyek LRT Jabodebek Kemahalan

Menurut Pundjung, secara kajian pembangunan di pusat kota seperti Jakarta, Bekasi Depok, Bogor (Jabodebek) tidak cocok dibangun di atas tanah seperti jalur kereta api pada umumnya. Sebab menurutnya, lalu lintas yang ada di sana sudah terlalu padat.

"Kalau untuk di dalam kota tidak cocok dibangun di atas tanah. Sehingga pilihannya hanya dua elevated atau underground," ucapnya.

Pilihan paling tepat dari hasil kajiannya adalah dibangun secara elavated atau layang. Karena sebagai salah satu kota yang sedang berkembang, paling aman adalah dibangun secara layang karena tidak mengganggu lalu lintas.

"Nah kalau kita melihat ada potensi di jalan tol yang bisa kita manfaatkan untuk trase LRT. Ide ini tak hanya diadopsi LRT," ucapnya.

Baca Juga: LRT Jabodebek Dinilai Terlalu Mahal, Adhi Karya: Harga Kita Kompetitif

Lagi pula lanjutnya sudah ada beberapa proyek yang dilakukan secara layang. Seperti salah satu contohnya adalah pembangunan jalan tol Jakarta Cikampek Elevated II, atau pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya.

Sebagai salah satu contohnya adalah pembangunan MRT Jakarta. Pembangunan MRT Jakarta juga memiliki dua tipe pertama adalah elevated dan kedua underground.

"Kalau MRT dibangun sejak awal mungkin Lebak bulus enggak akan dibongkar. Memang kita menghadapi situasi Jakarta itu kota sedang berkembang. Sehingga beberapa infrastruktur itu banyak yang dibangun layang. Contohnya banyak," jelasnya

Alasan lainnya adalah karena masalah harga. Menurut Pundjung pembangunan LRT di bawah tanah alias underground jauh lebih mahal dibandingkan elevated.

Sebagai salah satu contohnya adalah pembangunan MRT Jakarta. Pembangunan MRT Jakarta sendiri menelan biaya Rp1 triliun per kilometernya, alias Rp16 triliun karena memiliki panjangannya 16 km.

"Underground gimana? Bisa saja tapi lebih mahal. Dari sisi kos lebih murah dari pada underground," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini