Defisit Neraca Perdagangan, Wapres JK: Impor Migas Terlalu Besar

Kamis 17 Januari 2019 21:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 17 320 2005982 defisit-neraca-perdagangan-wapres-jk-impor-migas-terlalu-besar-NJLMIiFwV9.jpg Foto: Wapres JK (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan salah satu penyebab defisit neraca perdagangan Indonesia adalah impor migas yang terlalu besar. Oleh karena itu, Wapres menyatakan perlu didorong peningkatan kapasitas produksi energi dalam negeri.

"Ada dua hal yang menyebabkan perdagangan kita defisit yakni impor migas yang terlalu besar, kemudian juga ekspor kita naik, tapi tidak sebesar (nilai) impor kita. Artinya, adalah kita harus lebih meningkatkan kapasitas dalam bidang energi," kata JK seperti dikutip Antara News, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

 Baca Juga: Mendag Sebut Tingginya Impor Nonmigas Dorong Pembangunan dan Investasi

Wapres mengatakan, upaya pertama yang harus dilakukan untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan tersebut adalah dengan meningkatkan nilai tambah produksi dalam negeri.

"Dalam menghadapi tersebut tentu masalah-masalah yang kita hadapi ialah bagaimana meningkatkan nilai tambah daripada negeri kita. Itu tentu menjadi bagian pertama yang harus kita lakukan untuk memperbaiki neraca perdagangan," katanya.

 Baca Juga: Fakta Defisit Neraca Perdagangan Terburuk Sepanjang Sejarah, Nomor 4 Solusinya

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada 2018 mengalami defisit terbesar sejak 1975, yakni mencapai USD8,57 miliar.

"Kalau kita lihat penyebabnya adalah lebih karena defisit migas yakni USD12,4 miliar. Sementara nonmigasnya kita masih surplus USD4,8 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Dia menyampaikan defisit neraca perdagangan pada 2014 tercatat sebesar USD2,20 miliar pada 2013 sebesar USD4,08 miliar dan pada 1975 sebesar USD391 juta.

 Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan 2018 Terburuk Sejak 1975

Dia menambahkan selama 2018 perdagangan Indonesia dengan beberapa negara mengalami surplus, di antaranya dengan India surplus sebesar USD8,76 miliar, Amerika Serikat surplus hingga USD8,56 miliar dan Belanda surplus USD2,6 miliar.

Sementara, perdagangan mengalami defisit, di antaranya dengan Tiongkok USD20,8 miliar, Thailand USD5,1 miliar dan Australia USD2,9 miliar.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini