Utang Luar Negeri RI Tembus Rp5.220 Triliun, Ini Penjelasan BI

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 24 Januari 2019 17:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 24 20 2008955 utang-luar-negeri-ri-tembus-rp5-220-triliun-ini-penjelasan-bi-oOkCTKBKza.jpg Penjelasan BI soal Utang Luar Negeri RI (Foto: Okezone)

JAKARTA - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia periode akhir November tercatat sebesar USD372 miliar atau sekira Rp5.220 triliun (mengacu kurs RP14.000 per USD). Dari jumlah tersebut rinciannya adalah USD183,5 miliar merupakan utang pemerintah dan Bank Sentral sedangkan sisanya USD189,3 miliar merupakan utang swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Direktur Eksekutif yang juga Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Aida Budiman mengatakan, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ini tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir November 2018 yang tetap stabil di kisaran 34%.

Lagi pula, lanjut Aida, rasio ULN tersebut masih relatif lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara negara-negara yang setara dengan Indonesia atau negara dengan grade B. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 84,8% dari total ULN.

Baca Juga: Wantimpres: Utang RI Terkendali dan Aman

"Bank Indonesia dan pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ujarnya dalam acara media briefing di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Aida juga menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai utang luar negeri Indonesia yang terus meningkat. Sebab BI sendiri mengeluarkan kebijakan yang komperhensif dan konsisten guna menjamin agar ULN Indonesia tetap terkendali.

"Karena ULN itu adalah bagian dari sumber pembiayaan dalam negeri. Seperti diceritakan current account itu kan masuk dalam financial account yang merupakan bagian aliran modal, nah di situ masuk ULN,"ucapnya.

Baca Juga: Sri Mulyani: Utang Itu Bukan Sesuatu yang Najis

Aida menambahkan, BI sendiri menjamin agar perbankan yang ingin menarik utang harus memperhatikan risiko-risiko yang akan terjadi di kemudian hari. Menurutnya pihak perbankan harus menyesuaikan kondisi perekonomian Indonesia dan global juga sebelum menarik utang.

Selain itu, perlu diperhatikan juga agar perbankan maupun pihak lainnya yang akan berutang peruntukannya. Alhasil saat ini hampir seluruh utang yang ditarik oleh pemerintah maupun perbankan merupakan utang jangka panjang.

"ULN yang diperlukan sesuai perekonomian itu aman. Saat ini kan hampir separuh swasta dan publik dan juga ada 80% utang untuk jangka panjang, jadi tidak ada ULN jangka pendek yang bisa cepat keluar," jelasnya.

Sebagai Informasi, saat ini secara tahunan ULN Indonesia per akhir November 2018 tumbuh sekitar 7%, sedangkan dibandingkan bulan sebelumnya juga mengalami peningkatan sekitar 5,3%. Kenaikan tersebut merupakan utang yang berasal dari ULN pemerintah, swasta dan BUMN.

Untuk ULN pemerintah tumbuh meningkat pada November 2018. Posisi ULN pemerintah pada akhir November 2018 sebesar USD180,5 miliar atau tumbuh 4,4% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 3,3% (yoy). Posisi ULN pemerintah tersebut meningkat USD 5,1 miliar dibandingkan dengan posisi pada akhir bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing di pasar SBN domestik selama November 2018.

Kemudian untuk ULN swasta pada November 2018 mengalami peningkatan. Posisi ULN swasta pada akhir November 2018 tumbuh 10,1% (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,7% (yoy). Posisi ULN swasta pada akhir November 2018 tersebut bertambah USD7,1 miliar dari posisi pada akhir bulan sebelumnya, terutama didorong oleh neto pembelian surat utang korporasi oleh investor asing.

ULN swasta tersebut sebagian besar dimiliki oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 73,9%, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pangsa pada bulan sebelumnya (72,9%).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini