nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Keraguan Terhadap Teknologi Nuklir di RI Masih Tinggi

Sabtu 26 Januari 2019 13:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 26 320 2009713 keraguan-terhadap-teknologi-nuklir-di-ri-masih-tinggi-vfXj0YFhNP.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Peneliti nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto menyebut masih ada keraguan yang cukup tinggi di kalangan pemerintahan terhadap teknologi nuklir.

Djarot mengatakan, Batan kebetulan memiliki sejumlah produk pertanian hasil riset dan pengembangan teknologi nuklir, salah satunya varietas padi dengan teknik mutasi radiasi, yang hanya dapat dimanfaatkan secara lebih luas jika berkolaborasi dengan kementerian terkait.

Namun sayang, menurut dia, hingga dirinya tidak lagi menjabat sebagai Kepala Batan belum juga berhasil menemui Menteri Pertanian (Mentan) untuk berkolaborasi memajukan pertanian di Indonesia dari hasil-hasil riset instasi penelitiannya.

"Saya pernah bertemu Pak Luhut (Menko Bidang Kemaritiman), beliau langsung menyambungkan ke Mentan tapi kebetulan tidak bisa juga,"ujar dia, dikutip dari Antara News, Jakarta, Sabtu (26/1/2019).

Baca Juga: Sosialisasi Teknologi Nuklir di Indonesia Sudah Rambah 7 Daerah

Selanjutnya di sektor energi, dia mengatakan teknologi nuklir juga masih sulit menembus kebijakan bauran energi nasional. Pada akhirnya Batan hanya bisa mengambil posisi sebagai technical support organization (TSO).

Keraguan, menurut dia, tidak hanya terjadi pada pemerintahan di tingkat pusat. Sering kali kepala daerah juga mengemas isu energi nuklir ini dengan bahasa yang tidak jelas, salah satunya seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada akhirnya yang terjadi adalah kegagalan seperti di Jepara dan Batam.

"Jadi kesimpulan saya, apakah nuklir ini dibutuhkan oleh Indonesia atau tidak?" kata Djarot.

Namun dia mengatakan di sisi lain pihak pronuklir selalu menganggap Batan terlalu sering mengambil sikap menunggu, tidak proaktif. Persoalannya ketika Batan mencoba lebih proaktif dikhawatirkan kejadiannya akan seperti di Bangka-Belitung, ketika telah mengeluarkan dana hingga Rp150 miliar untuk feasibility studies (FS) pada akhirnya tidak dapat dilanjutkan.

Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir Batan Hendig Winarno mengatakan pihaknya akan mencoba betul-betul menjadi provider teknologi, TSO, clearing house of nuclear technology di 2019. Batan ingin semakin "membumikan" teknologi nuklir.

Baca Juga: RI Mau Bangun Pembangkit Listrik Nuklir, Bagaimana Keamanannya?

"Saya sekali `kompori` pusat diseminasi supaya menyosialisasikan benih padi hasil mutasi radiasi lebih banyak, dari 2.000-3.000 hektare (ha) saya bilang coba sampai 10 atau 20 kali lipatnya, sehingga padi dari hasil teknologi nuklir ini benar-benar bisa dimanfaatkan," ujar dia.

Untuk di sektor kesehatan juga sama. Dirinya berharap radioisotop renogram untuk pemeriksaan fungsi ginjal tidak hanya dimanfaatkan untuk dua rumah sakit saja, harus diperbanyak agar produksi tidak merugi.

"Saya bilang 10 rumah sakit, karena dari segi isotopnya tentu merugi kalau hanya membuat untuk dua rumah sakit saja, sekecil-kecilnya ya untuk 10 rumah sakit lah," ujar dia.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini