nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasar Keuangan RI Masih Kalah dari Malaysia dan Thailand

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 29 Januari 2019 11:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 29 320 2010774 pasar-keuangan-ri-masih-kalah-dari-malaysia-dan-thailand-140IfHEjqY.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Pendalaman pasar keuangan Indonesia dinilai masih jauh tertinggal di bandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Kondisi ini membuat Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan sektor jasa keuangan yang masih terbilang rendah. “Kondisi sektor jasa keuangan Indonesia masih di nyatakan dangkal dan dalam hal ini bisa terpengaruh gejolak ekonomi dunia,” ujar Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/ Bappenas Leonard VH Tam pubolon di Jakarta, kemarin. Leonard mengatakan, dari segi inklusivitas, Indonesia masih terbilang rendah. Pasalnya, masih banyak penduduk Indonesia belum menikmati layanan jasa keuangan secara formal. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di kisaran 5% membutuhkan upaya untuk mencegah berlanjutnya pemburukan situasi.

Baca Juga: Sistem Keuangan Indonesia Normal dan Berjalan Baik, Ini Buktinya

Dalam hal ini sektor jasa keuangan merupakan salah satu sektor memiliki peranan penting. “Untuk mencapai sasaran per tumbuhan ekonomi ke depan, sektor jasa keuangan dibutuhkan untuk membiayai kebutuhan investasi sehingga perlu dilakukan upaya pendalaman keuangan, baik dari pasar keuangan maupun institusi keuangan,” tuturnya. Leonard mengatakan, upaya pendalaman keuangan tidak hanya cukup dengan meningkatkan ukurannya saja. Perlu juga dilakukan peningkatan kualitas yang memungkinkan sektor keuangan menjalankan fungsinya, baik sebagai motor maupun penopang pertumbuhan ekonomi, tanpa memunculkan dampak negatif yang tidak terantisipasi dan teratasi.

“Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi. Untuk itu, sektor jasa keuangan berperan dalam merealisasi potensi tersebut melalui pembiayaan investasi, pendanaan sektor riil, serta pendorong efisiensi, alokasi, dan modal pada republik ini,” katanya. Direktur Jasa Keuangan dan BUMN Kementerian PPN/Bappenas Muhammad Cholifihani mengatakan, kondisi sektor keuangan di Indonesia yang masih dangkal bisa dilihat dari beberapa indikator, seperti rasio M2 per PDB, aset dana pensiun per PDB, aset perusahaan asuransi per PDB, maupun kredit do mes tik sektor privat per PDB di Indonesia.

grafik

Hal ini membuat Indonesia kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. “M2 per PDB sebenarnya potensial, yaitu 60%, tetapi ternyata realisasinya hanya 38%. Di Bappenas untuk arah kebijakan kami 2020-2014 mendorong sektor keuangan, baik itu melalui institusi, literasi keuangan, maupun pendalamannya,” ujarnya. Dia berharap masyarakat semakin mengenal literasi keuangan selain perbankan, tetapi juga pasar modal, asuransi, dan tabungan saham.

“Pemerintah juga sudah mendorong, tetapi animo masyarakat juga belum terbentuk kuat. Kita lakukan kolaborasi dan kerja sama antara stakeholder keuangan di Indonesia,” ungkapnya. Ekonom dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Miryam BL Wijaya mengatakan, dalam pendalaman keuangan, institusi keuangan non bank perlu ikut berperan. “Sektor keuangan itu bukan hanya perbankan, tetapi ada non bank dan pasar keuangan. Semua itu harus bekerja bersama-sama agar sektor keuangan Indonesia semakin dalam,” ujarnya.

Menurut dia, perbedaan kondisi ekonomi di setiap provinsi di Indonesia berimplikasi pada kebutuhan pendekatan perencanaan pembangunan keuangan yang beragam. “Pendalaman keuangan di setiap tempat berbeda-beda. Di Aceh dengan Papua tentu berbeda. Begitu pula dengan Jawa dan Ma luku. Jadi, ketika mau mendalamkan pasar, cari bentuk peraturan kebijakan yang sesuai dengan daerahnya,” katanya.

(Oktiani Endarwati)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini