nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Turunnya Harga BBM hingga Permintaan Maaf Bos Bukalapak

Giri Hartomo, Jurnalis · Sabtu 16 Februari 2019 09:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 15 320 2018579 turunnya-harga-bbm-hingga-permintaan-maaf-bos-bukalapak-kQHs6WRpg1.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan non subsidi. Hal tersebut dilakukan menyusul turunnya harga minyak mentah dunia.

Disisi lain, Presiden Joko Widodo membuka peluang bagi pihak swasta untuk menjual Avtur. Hal tersebut menyusul mahalnya harga avtur yang dijual oleh PT Pertamina (Persero).

Lalu ada permintaan maaf dari Bos Bukalapak Achmad Zaky kepada pendukung Presiden Joko Widodo lewat akun Twitter pribadinya. Hal tersebut setelah dirinya mengkritisi soal dana riset Indonesia yang masih kalah jauh dibandingkan negara lainnya.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Premium dan Pertamax Turun, Ini Daftar Lengkap Harga BBM

PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian . Kebijakan penyesuaian harga ini ditempuh menyusul tren menurunnya harga minyak mentah dunia dan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika.

Baca Juga: Bulan Depan Harga BBM Bisa Turun Lagi, Ini Syaratnya

Pertamina menurunkan jenis Premium (JBKP di wilayah Jawa, Madura, dan Bali) menjadi Rp6.450 per liter sehingga sama dengan harga di luar Jawa, Madura, Bali. Sebelumnya harga Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali sebesar Rp6.550.

Selain Premium, Pertamina akan menurunkan harga Pertamax Cs. Tapi untuk Pertalite tidak turun. Pertamina menurunkan harga BBM non subsidi yang berlaku 10 Februari 2019 pukul 00.00 waktu setempat (WIT, WITA dan WIB). Penurunan ini sebesar Rp50-Rp800 per liter.

Baca Juga: Harga Premium Turun, Menko Luhut: Ekonomi Kita Makin Baik

Berikut daftar terbaru harga BBM non subsidi untuk wilayah Jakarta yang dirangkum Okezone:

1. Pertamax Turbo disesuaikan dari Rp 12.000 menjadi Rp 11.200 per liter

2. Pertamax disesuaikan dari Rp 10.200 menjadi Rp 9.850 per liter

3. Dexlite disesuaikan dari Rp 10.300 menjadi Rp 10.200 per liter

4. Dex disesuaikan dari Rp 11.750 menjadi Rp 11.700 per liter

5. Pertalite tetap Rp 7.650 per liter

Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid menjelaskan sesuai ketentuan Pemerintah, sebagai badan usaha hilir Migas Pertamina tunduk pada mekanisme penentuan harga dengan mempertimbangkan dua faktor utama, yakni harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah.

“Komponen utama penentu harga bersifat fluktuatif, sehingga kami terus melakukan evaluasi terhadap harga jual BBM,” kata Mas'ud Khamid dikutip Minggu (10/2/2019).

Presiden Jokowi Buka Peluang Swasta Jual Avtur

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana akan memberikan izin perusahaan lain untuk memasok kebutuhan avtur dalam negeri. Dengan begitu, kata Jokowi, terjadi persaingan harga yang sehat sehingga mampu menekan harga tiket maskapai yang menjadi kompetitif.

"Kalau ini diterus-teruskan nanti pengaruhnya ke harga tiket pesawat, karena harga avtur itu menyangkut 40% dari cost yang ada di tiket pesawat," ujar Jokowi, dalam acara Gala Dinner 50 Tahun PHRI di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Dia mengaku kaget mengetahui harga tiket maskapai penerbangan yang mengalami kenaikan signifikan. Mahalnya harga tiket itu mendapat keluhan langsung dari Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani.

"Berkaitan dengan harga tiket pesawat, saya terus terang kaget," ujar Jokowi.

Harga tiket pesawat mahal lantaran mahalnya harga avtur dalam negeri yang dimonopoli Pertamina. Bahkan, Jokowi menyebut harga avtur nasional 30% lebih mahal dari harga Internasional.

"Karena monopoli, harga jadi tidak kompetitif, bandingkan harga avtur disitu dengan yang di dekat-dekat lain, terpaut kurang lebih 30-an persen," kata Jokowi.

Kepala Negara berencana akan memanggil Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk membahas permasalahan harga avtur dalam negeri.

Bos Bukalapak Minta Maaf ke Pendukung Jokowi Usai Kritik Dana Riset Indonesia

Founder & CEO Achmad Zaky mengkritik dana riset yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, anggaran dana riset Indonesia sangat rendah dibandingkan beberapa negara.

Dalam akun Twitternya, @achmadzaky tidak mungkin Indonesia bisa mengembangkan industry 4.0 jika anggarannya hanya USD2 miliar. Menurut Zaky, sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat 511 miliar dolar ASdan China yang 451 miliar dolar AS. Bahkan, anggaran tersebut lebih sedikit dibandingkan Malaysia dan Singapura yang masing-masing mengalokasikan dana 10 miliar dolar AS.

"Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin," cuitnya di Twitter, dikutip Jumat (15/2/2019).Kalimat tersebut ternyata menuai reaksi keras dari pendukung Presiden Joko Widodo. Tak lama setelah itu Zaky meluruskan dan meminta maaf kepada seluruh pendukung Presiden Joko Widodo. Menurutnya, dia tidak bermaksud untuk menyudutkan Presiden Joko Widodo.

"Buat pendukung pak Jokowi, mohon maaf jika ada yg kurang sesuai kata2 saya jadi misperception. Saya kenal Pak Jokowi orang baik. Bahkan sudah saya anggap seperti Ayah sendiri (sama2 orang solo). Kemarin juga hadir di HUT kami. Tidak ada niat buruk tentunya dari tweet saya," kata dia.

Dia mengklarifikasi bahwa data anggaran riset tersebut disampaikan agar Indonesia lebih meningkatkan investasi di sektor SDM. Dia pun berharap kata-katanya soal "presiden baru" tidak disalah artikan

"Saya apresiasi sekali concern masyarakat twitter soal isu R&D ini. Tanda kalau kita engga kalah pinter. R&D adalah single pembeda negara maju dan miskin. Kalau engga kuat di R&D, kita akan perang harga terus. Negara maju masuk di perang inovasi. Negara miskin masuk di perang harga," kata Zaky.

1
2

Berita Terkait

Top News Economy

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini