nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Disayangkan, Defisit Migas Tak Dibahas Dalam Debat Capres

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 19 Februari 2019 12:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 19 320 2019983 disayangkan-defisit-migas-tak-dibahas-dalam-debat-capres-44uYfYFM9q.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Pengamat Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudistira menyebut debat kedua masih belum memenuhi harapan. Sebab masih ada beberapa isu yang belum dibahas secara menyeluruh.

Salah satunya masalah energi yang kurang dikupas secara mendalam. Apalagi, impor migas sangat tinggi sekali dan menjadi penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan.

Seperti diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2019 mengalami defisit sebesar USD1,16 miliar. Angka ini naik dari defisit pada bulan sebelumnya yang hanya mencapai USD1,03 miliar.

Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan Januari 2019 Terbesar Sejak 2013

Defisit awal tahun 2019 ini juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan neraca perdagangan Januari 2018 yang defisit USD75 juta. Kondisi neraca perdagangan Januari 2019 dipicu defisit pada sektor minyak dan gas (migas) maupun nonmigas

Di mana pada sektor migas mengalami defisit sebesar USD454,8 juta. Di dorong defisit pada minyak mentah sebesar USD383,6 juta dan hasil minyak defisit USD981,1 juta, sedangkan gas mengalami surplus USD909,9 juta.

Selain itu, Bhima juga menyayangkan tidak ada program yang mengarah pada pembangunan kilang baru untuk cadangan minyak. Sebab tanpa ada pembangunan kilang minyak baru, maka impor minyak mentah Indonesia akan terus melebar menyusul terus meningkatnya konsumsi dalam negeri.

Baca Juga: Defisit Migas Turun, Menko Darmin: Dampak Kebijakan B20

"Belum memenuhi harapan (debat capres kedua) karena banyak isu fundamental khususnya energi lolos dan tidak dibahas misalnya defisit migas yang melebar dan pembangunan kilang minyak," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (19/2/2019).

Lebih lanjut Bhima berharap jika dalam debat-debat selanjutnya, akan berjalan lebih menarik. Para pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden diharapkan lebih aktivitas menyampaikan program-programnya khusus dalam bidang ekonomi.

"Harapannya lebih banyak program ke depan yang dibahas bukan sekedar retorika dan nostalgia masa lalu," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini