Menteri Jonan: Proses Divestasi Saham Freeport Tak Pakai Perjanjian Lama

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 20 Februari 2019 22:35 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 20 320 2020783 menteri-jonan-proses-divestasi-saham-freeport-tak-pakai-perjanjian-lama-j18tBuHqSp.jpg Menteri ESDM Jonan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said membeberkan pertemuan rahasia antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan James R Moffett (Jim Bob Moffett) yang saat itu sebagai Chairman Freeport McMoran.

Blak-blakan Sudirman Said diawali dari surat 7 Oktober 2015, yang menjadi cikal bakal perpanjangan izin PT Freeport Indonesia di Papua. Pernyataan ini membuat heboh dikarenakan proses divestasi 51% saham Freeport kembali dibahas.

Menanggapi hal ini, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, perundingan dengan Freeport Indonesia kala itu bukan dengan Jim Moffett. Jim Moffett sendiri sudah mengundurkan diri 29 Desember 2015.

Selama proses perundingan, pemerintah Indonesia melalui tim yang terdiri dari Menteri ESDM, Menteri Keuangan dan Menteri BUMN hanya melakukan pertemuan dengan CEO Freeport McMoran yakni Richard Adkerson.

"Kalau waktu saya ditugaskan oleh bapak Presiden 14 Oktober 2016 yang setelah pak SS (Sudirman) lalu ada pak Arcandra sekitar 20 hari setelah itu ada Plt pak Luhut," kata Jonan di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

"Waktu saya itu (perundingan) sudah Adkerson, bukan Moffett," ujarnya.

Baca Juga: Perjalanan Panjang RI Kuasai 51% Saham Freeport

Freeport

Jonan menambahkan, dalam proses perundingan divestasi 51% saham Freeport Indonesia, Presiden Jokowi menekankan agar ini harus diselesaikan dengan memperhatikan empat poin perjanjian, salah satunya penerimaan negara harus lebih besar.

"Akhirnya kami tim menteri nego, hasilnya ya kayak sekarang," katanya.

Jonan mengungkapkan, selama dua tahun atau selama proses perundingan berlangsungan, Presiden Jokowi tidak pernah melakukan pertemuan khusus dengan Adkerson.

"Sudah itu aja, yang setahu saya juga Presiden enggak terima Adkerson," ujarnya.

Lanjut Jonan mengatakan, ketika dirinya menjabat sebagai Menteri ESDM, perundingan dengan Freeport kembali dilakukan, sehingga perundingan yang sebelumnya dianggap tidak sah.

"Kan waktu masa saya ditugaskan di sini, itu ditinggalkan semua, start dari 0 perundingannya. Tapi misalnya tok, pertemuannya ada, kan enggak relevan," tuturnya.

Kendati demikian, diakui Jonan sebelum dirinya menjabat Menteri ESDM ada beberapa perjanjian ketika berunding dengan Freeport. Namun, Jonan tidak mengetahui soal kesepakatan-kesepakatan sebelumnya.

"Jadi apapun yang terjadi sebelum zaman saya itu tidak dijadikan dasar lagi. Kalau dijadikan dasar lagi ya enggak bisa dapat saham 51%," katanya.

Selama ini kata Jonan, perundingan dengan Freeport tidak berdasarkan perjanjian yang lama. "Setau saya pokoknya Presiden enggak mau ketemu sampai perjanjian ditandatangani, enggak pernah ada pertemuan khusus terpisah. Semua proses melalui tim menteri, lalu kami melaporkan ke Presiden," ujarnya.

Jonan pun menyindir Sudirman Said sebagai Mantan ESDM yang memberikan komentar perihal divestasi 51% saham Freeport.

"Dua tahun itu kita proses enggak gaduh, yang gaduh itu kan yang komentar. Kan perundingannya setengah mati tuh untuk 4 aspek itu. Sebaiknua kalau sebagai mantan itu enggak usah komentar-komentar. Setiap masa itu tayangannya beda-beda dan cara yang nanganin beda-beda sepanjang enggak melanggar hukum dan etika," katanya.

Sudirman Said

Baca Juga: Daftar Lengkap Direksi dan Komisaris Freeport Usai Dikuasai RI

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini