nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tarif Kargo Udara Mahal, 4 Perusahaan Logistik Bangkrut

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 19:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 27 320 2023653 tarif-kargo-udara-mahal-4-perusahaan-logistik-bangkrut-AhYUdwPrBw.jpg Foto Pesawat (Ilustsrasi: Okezone)

JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) buka suara terkait naiknya tarif kargo pesawat. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu maskapai penerbangan resmi menaikan tarif kargo hingga 300%.

Wakil Ketua Umum Asperindo Budi Paryanto mengatakan, akibat mahalnya tarif kargo tersebut membuat beberapa perusahaan logisitik gulung tikar alias bangkrut. Berdasarkan perhitungannya, ada empat anggota Asperindo yang bangkrut karena mahalnya kargo pesawat.

"Ada empat perusahaan yang mereka mengalami kebangkrutan dan mulai akan menutup operasionalnya. Dua di Pekanbaru, satu di Palembang dan satu di Jakarta," ujarnya, saat ditemui di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Baca Juga: Tarif Jasa Logistik Mulai Pengaruhi Ekspor Perikanan RI

Dengan kenaikan kargo, jumlah pelanggan pun mengalami penurunan. Tak hanya itu, ada beberapa pelanggan setianya juga yang memutuskan untuk mengurangi jumlah produksinya menyusul mahalnya tarif kargo pesawat.

"Dampaknya customer mengurangi produksinya karena ongkos kirimnya lebih mahal dari ongkos produksinya," ucapnya.

Budi menjelaskan, berdasarkan perhitungannya ada penurunan bisnis hingga 40% akibat kenaikan kargo ini. Bagi perusahaan logisitik dengan skala kecil tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap keuangan perusahaan.

"Perusahaan yang daya tahannya bagus mereka masih bisa bertahan, tapi yang kecil sudah goyang," ucapnya.

Baca Juga: Tinggalkan Singapura, RI Tetapkan 7 Pelabuhan Hub

Penurunan kinerja juga berpengaruh terhadap nasib karyawan. Beberapa perusahaan akhirnya terpaksa untuk merumahkan beberapa karyawannya sebagai bentuk efesiensi yang dilakukan perusahaan.

"Mereka sudah mulai merumahkan karyawan, tinggal proses administrasi penutupan perusahaan saja," kata Budi.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini