nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Akui Pergerakan Rupiah dan Suku Bunga Dipengaruhi The Fed

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 27 Maret 2019 17:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 27 20 2035711 bi-akui-pergerakan-rupiah-dan-suku-bunga-dipengaruhi-the-fed-0jcrRNCQ9z.jpg The Fed (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut pergerakan nilai tukar dan suku bunga acuan dalam negeri banyak terpengaruh dari ekonomi global. Utamanya kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, awal mula jika nilai tukar dan suku bunga acuan Indonesia terpengaruh kebijakan The Fed pada awal tahun 2000 dan 2001. Ketika itu, lanjut Mirza, Amerika Serikat sedang krisis. Sehingga mau tidak mau The Fed pun menurunkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate).

"Periode 2000, 2001 saat the Fed turun ratenya. Kita lihat bahwa suku bunga kita mampu turun. Pada saat itu kurs membaik," ujarnya di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Baca Juga: Aliran Dana Asing Capai Rp74 Triliun

Setelah itu, ekonomi AS mulai kembali membaik dan membuat The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya dari 1% menjadi 5,25%.

"Pada waktu suku bunga AS mulai naik 2004-2005 dan naik sangat cepat dari 1% ke 5,25%, saat itu pun kurs kita melemah dan saat itu kita harus respons dengan suku bunga Indonesia yang naik," jelasnya.

Namun pada 2008, ekonomi Amerika Serikat mengalami krisis yang berasal dari subprime mortgage sehingga AS melakukan pelonggaran besar-besaran. Pelonggaran itu dilakukan dengan menurunkan suku bunga acuan secara drastis dari 5,25 ke 0,25%.

"Kemudian suku bunga Indonesia turun dan kurs menguat," ucapnya.

Baca Juga: Tak Pakai Dolar AS, Perdagangan RI-Thailand Naik 4 Kali Lipat Jadi Rp121 Miliar

Setelah itu, pada 2013 ekonomi Amerika Serikat mulai recovery. Sehingga The Fed pun memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengurangi stimulus ekonomi secara bertahap (Taper tantrum). Efeknya pun berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah.

"Suku bunga AS belum naik 2013, kurs kita melemah, dan bukan cuma Indonesia yang melemah tapi berbagai negara melemah, Dan kita pun harus melakukan respons menaikkan suku bunga," jelasnya.

Hingga puncaknya pada 2018, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 4 kali. Hal tersebut berdampak pada nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh angka Rp15000 per USD.

Segera setelah itu, BI pun mengambil kebijakan dengan menaikkan suku bunga acuannya. Dan pada saat yang sama pemerintah juga membantu lewat kebijakan moneter dengan meminta para pengusaha menukarkan Dana Hasil Ekspor (DHE) menjadi Rupiah.

"Di tahun 2013-2015 kita punya CAD di atas 3%. Tahun 2018 kenapa kita naikkan bunga lagi? Karena saat itu suku bunga AS masih naik dan Trump berantem dengan China dan CAD kita kembali membengkak. Tadinya di bawah 2,5%, lalu CAD kembali menuju ke 3%, bahkan angka kuartalan (defisit) di atas 3% dari PDB. Jadi BI berikan repsons dengan naikkan suku bunga," jelas Mirza .

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini