nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penyaluran Pinjaman Fintech Melonjak, Rasio Kredit Macet Naik Capai 3,18%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 28 Maret 2019 18:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 28 320 2036291 penyaluran-pinjaman-fintech-melonjak-rasio-kredit-macet-naik-capai-3-18-hBjvD6bEU1.jpeg Konferensi Pers OJK (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit melalui fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online tumbuh pesat. Total pinjaman outstanding baik yang sudah lunas maupun belum mencapai Rp7,05 triliun per akhir Februari 2019. Angka tersebut meningkat 600% (year on year/yoy),

Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK Yohannes Santoso mengatakan, pertumbuhan penyaluran kredit yang tinggi itu perlu diwaspadai, sebab seiring dengan meningkatnya kredit macet (Non Performing Financing/NPF) sebesar 3,18%. Sementara untuk penyaluran kredit yang kurang lancar mencapai 3,17%. Rasio itu merupakan perhitungan dari 99 fintech P2P lending yang terdaftar di OJK.

"Kalau diparalelkan dengan bank, jumlah keduanya 6,35%, cukup tinggi dibandingkan dengan bank," ujar kata dia di Gedung Radius Prawiro Kompleks BI, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Baca Juga: OJK: Pertumbuhan Kredit di Februari 2019 Capai 12,13%

Adapun kredit bermasalah perbankan (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,59% untuk NPL gross dan NPL nett sebesar 1,17%.

Dia menyatakan, tingginya rasio kredit macet fintech P2P lending disebabkan tingginya risiko penyaluran kredit melalui platform pinjaman online tersebut. Meski, nominal kredit yang disalurkan oleh kreditur online lebih rendah dibandingkan dengan perbankan.

Padahal pada Oktober 2018 lalu, rasio kredit macet fintech peer to peer lending masih di kisaran 1%. Maka hanya butuh kurun waktu beberapa bulan untuk kredit macet P2P lending bisa melonjak pesat ke kisaran 3%.

Yohannes menilai, besarnya lonjakan tersebut disebabkan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) belum memiliki batasan wajar tingkat NPF, layaknya yang dimiliki perbankan sebesar 5%.

grafik

"Perbankan sudah ada angka tresshold (tidak boleh lebih dari 5%) dan itu munculnya bertahun-tahun, BI dan OJK punya angka itu. Fintech kan baru berapa tahun, untuk bisa mencapai angka yang wajar normal itu perlu waktu," kata dia.

Menurut dia, agar rasio kredit macet bisa terjaga, APFI perlu membuat pusat data seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Sehingga antara penyelenggara jasa pinjaman online bisa saling menukar informasi debitur.

"Mereka sudah punya komitmen kuat untuk membuat semacam SLIK, jadi bisa saling tukar informasi untuk mengubah NPF yang besar itu," katanya.

(kmj)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini