nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPS: Inflasi Gara-Gara Harga Tiket Pesawat Tak Wajar

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 01 April 2019 14:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 01 20 2037745 bps-inflasi-gara-gara-harga-tiket-pesawat-tak-wajar-IetMAN1Y2Q.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebut salah satu penyebab inflasi pada Maret 2019 adalah kenaikan harga tiket pesawat. Adapun kontribusi tiket pesawat terhadap inflasi 0,03%.

Dari angka tersebut ada sekitar lima wilayah yang mencatatkan angka inflasi dari tiket pesawat. Pertama adalah Kota Tual di Maluku Utara yang mencatatkan inflasi sebesar 32,14%.

Sementara itu, selanjutnya adalah Kota Bungo di Jambi yang mana inflasinya mencapai 27,38%. Lalu ada Ambon dengan inflasinya adalah sebesar 20,83%.

 Baca Juga: Inflasi Maret 0,11%, Pemicunya Harga Tiket Pesawat yang Mahal

Lalu disusul Kota Malang dengan angka inflasinya adalah 14,13%. Kemudian yang terakhir adalah Manokwari dengan angka inflasi sebesar 13,2%

"Ini adalah beberapa contoh di mana angkutan udara inflasinya masih cukup tinggi," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (1/4/2019).

Pria yang kerap disapa kecuk itupun menjelaskan, memang tarif tiket pesawat ini bukan menjadi komoditas utama penyumbang inflasi. Faktor pendorong inflasi pada Maret 2019 sendiri dari belanja keluar yakni Kesehatan dan Sandang.

"Ini (tiket pesawat) memberikan kontribusi tapi bukan yang utama ya," ucapnya.

Akan tetapi lanjut Kecuk, kenaikan angka inflasi pada transportasi udara ini sangat tidak wajar. Mengingat jika pengalaman tahun-tahun sebelumnya, angka inflasi dari transportasi udara seharusnya mengalami penurunan.

 Baca Juga: BPS: Inflasi Maret 0,11% tapi Bahan Makanan Deflasi

Biasanya pengaruh kenaikan tiket udara pada inflasi sendiri terjadi pada masa-masa libur panjang dan sekolah. Seperti pada saat natal dan tahun baru, lebaran dan puasa. Sedangkan pada Maret ini tidak terlalu banyak libur.

"Biasanya angkutan udara ini adanya di Januari, tapi ternyata masih ada juga di Februari, kemudian sampai Maret juga masih terasa 0,03%," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini