Kejar Ekspor, RI Mulai Kembangkan Perdagangan Jasa

Senin 01 April 2019 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 01 320 2037734 kejar-ekspor-ri-mulai-kembangkan-perdagangan-jasa-0vvyY2GUEX.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) giat menjalankan berbagai strategi untuk menggenjot pengembangan potensi perdagangan di sektor jasa guna meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.

"Sektor jasa memiliki prospek yang besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun-tahun mendatang. Kemendag terus berupaya menjadikan sektor jasa sebagai andalan untuk mendongkrak neraca perdagangan nasional dan menggantikan sektor industri yang terus menurun," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda dilansir dari Harian Neraca, Senin (1/4/2019).

Menurut Arlinda, pertumbuhan sektor jasa dalam perekonomian di Indonesia meningkat dalam beberapa tahun ini. Pada 2018, nilai sektor jasa mencapai pertumbuhan tertinggi selama tujuh tahun terakhir jika dibandingkan dengan sektor pertanian dan manufaktur.

Baca Juga: Indonesia Berniat Tingkatkan Ekspor Kopi ke Argentina

Selain itu, kontribusi sektor jasa terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2018 mencapai 54% atau 47% tenaga kerja memperoleh penghidupan dari sektor ini. Nilai ini meningkat dibandingkan tahun 2017 yang tercatat sebesar 43,6%.

Selain kontribusinya yang besar terhadap PDB, Arlinda juga berharap sektor jasa dapat memberikan kontribusi yang lebih besar lagi terhadap ekspor nonmigas. Ekspor nonmigas pada tahun 2019 ini ditargetkan tumbuh sebesar 7,5%.

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Arlinda, Kemendag sedang menyusun peta potensi ekspor sektor jasa secara terinci agar dapat memasuki pasar internasional dalam waktu singkat.

Dalam proses penyusunan peta potensi ekspor jasa ini, Kemendag melalui Ditjen PEN menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait, seperti sektor industri jasa MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition), konsultan manajemen, arsitek, dan kuliner. FGD berlangsung pada 19 Maret 2019 di Bogor, Jawa Barat.

Defisit Neraca Perdagangan 

Dari FGD ini berhasil diidentifikasi sektor-sektor jasa potensial yang dapat menjadi prioritas dan digarap secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan agar dapat masuk ke pasar internasional.

Sektor tersebut, antara lain jasa pariwisata (termasuk kuliner), jasa konstruksi, serta jasa teknologi komunikasi dan informasi (media digital, pengembang perangkat lunak, serta jaringan teknologi informasi dan komunikasi).

Selain itu, jasa bisnis lainnya misalnya, jasa profesional dan konsultasi, periklanan dan kreatif digital, jasa legal, arsitek/desain interior serta jasa keinsinyuran. Salah satu kebijakan yang bisa diterapkan yaitu dengan memilih skema insentif untuk mendorong ekspansi bisnis produk jasa ke mancanegara.

"Diperlukan sinergi antara kementerian/lembaga terkait dalam memilih skema insentif yang dapat memberi gairah kepada para pelaku usaha untuk melakukan ekspansi bisnis produk jasa ke luar negeri. Pemerintah juga akan berupaya menyiapkan insentif menarik pelaku usaha global untuk memilih di Indonesia sebagai pusat operasi jasa regional," ujar Arlinda.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan mengungkapkan strategi ekspor untuk menembus pasar negara ekonomi baru atau emerging market, seperti Afrika.

"Tentu penjajakan awal melalui preferential trade agreement (PTA), produk apa saja yang bisa kita pertukarkan penurunan tarifnya mengingat salah satu hambatan di negara-negara ekonomi baru ini adalah tarif bea masuk. Kalau negara maju sudah non-tarif," kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri di Jakarta.

Dia menjelaskan bahwa strategi lainnya yang dilakukan pihaknya adalah menyadari pentingnya pasar negara-negara ekonomi baru yang dekat dengan Indonesia, termasuk ASEAN.

"Kita melakukan perubahan, realokasi perwakilan-perwakilan untuk menangani negara-negara ekonomi baru yang tidak jauh-jauh, terutama Asia Selatan seperti Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan itu sedang kita garap," kata ujar Kasan Muhri.

Selain itu, menurut dia, Myanmar juga sedang digarap, kemudian menyusul Kemendag akan membuka Turki. "Hal-hal ini merupakan bagian dari strategi kita untuk bagaimana mengompensasi pelemahan dari negara-negara tujuan ekspor yang tradsional," ujarnya.

Sebelumnya Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita akan membuka pasar ekspor baru di negara-negara yang belum memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia. Dia menjelaskan bahwa terdapat 13 negara, di kawasan Afrika dan Asia Selatan, yang berpotensi untuk menjadi pasar ekspor baru Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini