nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kepala Bappenas Heran Pengangguran SMK Lebih Banyak dari SMA

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 03 April 2019 15:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 03 320 2038632 kepala-bappenas-heran-pengangguran-smk-lebih-banyak-dari-sma-aNgAvWI8mP.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengaku heran melihat angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lebih tinggi dibandingkan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga Agustus 2018 sebanyak 7 juta orang menganggur. Di mana lulusan SMK mendominasi yakni sebesar 11,24%, sedangkan dari lulusan SMA sebesar 7,95%.

"Indonesia memang ada logika yang terbalik.Tingkat pengangguran lulusan SMK mendominasi pengangguran nasional. Tingkat pengangguran SMK lebih tinggi dari SMA. Ini terbalik," kata Bambang ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (3/4/2019).

Baca Juga: Fakta Banyaknya Lulusan SMK yang Menganggur

Menurutnya, lulusan SMK seharusnya memiliki peluang kerja yang lebih besar dibandingkan lulusan SMA. Sebab, pendidikan SMK merupakan pendidikan vokasi, yakni mempersiapkan siswa untuk bekerja ketika lulus.

Dia menilai, dengan menengok data tersebut maka ada kesalahan dari sistem pendidikan vokasi. Hal ini yang membuat pemerintah sedang mendorong perbaikan pendidikan vokasi.

Lebih lanjut Bambang menyatakan, saat ini tingkat pengangguran memang menurun hingga ke 5,34%, namun lapangan kerja masih didominasi oleh sektor informal. Menurutnya, hal ini perlu diubah dengan menggenjot lapangan kerja di sektor formal.

"Karena kalau lapangan kerja informal itu belum cukup dilindungi asuransi. Kita perlu meningkatkan sektor formal dalam ekonomi kita," katanya.

Baca Juga: Era Robotik Jadi Ancaman Bertambahnya Jumlah Pengangguran

Berdasarkan data BPS, pada Agustus 2018 sebanyak 53,52 juta orang atau 43,16% penduduk bekerja pada kegiatan formal. Sedangkan sebanyak 70,49 juta orang atau 56,84% bekerja pada kegiatan informal.

Menurutnya, permasalahan menekan angka pengangguran juga meningkatkan lapangan kerja di sektor formal, perlu melibatkan peran generasi milenial yang dapat memanfaatkan teknologi dalam berwirausaha. Sebab, saat ini angka pengusaha dilihat masih jauh lebih kecil dibandingkan tenaga kerja profesional.

"Kelemahan kita, orang pintar cukup, profesional cukup, yang kurang pengusahanya," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini