Era Teknologi Digital Memberi Potensi Pertumbuhan Halal Market

Sabtu 18 Mei 2019 09:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 17 278 2056855 era-teknologi-digital-memberi-potensi-pertumbuhan-halal-market-FLeMEpPCqt.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk bertumbuhnya produk-produk halal. Termasuk produk keuangan dan investasi syariah yang difasilitasi pasar modal Indonesia.

Potensi besar ini belum tergarap dengan optimal, terlihat dari daya saing industri syariah Indonesia yang masih ketinggalan dibanding negara lain.

Dari perkembangan halal food, Indonesia tidak masuk dalam 10 besar negara dengan produk halal food terbesar. UAE berada di urutan pertama industri halal food, dilanjutkan dengan Malaysia dan Brasil.

 Baca Juga: Manfaat Good Corporate Governance bagi Emiten

Di Industri keuangan syariah, Indonesia berada di urutan kesepuluh. Malaysia, Bahrain dan UAE berada di peringkat pertama sampai ketiga untuk Islamic Finance. Dilihat dari 10 top Halal Travel, Indonesia ada di urutan keempat setelah UAE, Malaysia dan Turki.

Indonesia cukup menonjol pada market fashion di urutan kedua setelah UAE. Sementara itu produk farmasi dan kosmetik, Indonesia belum masuk dalam urutan 10 besar.

Potensi besar Indonesia antara lain terlihat pada data Global Muslim Travel Index 2019, yang menunjukkan Indonesia berada pada urutan pertama Top Halal Tourist Destinations 2019 dengan skor 78, diikuti dengan Malaysia, Turki dan Saudi Arabia.

Sebanyak 87% penduduk Indonesia atau 230 juta orang beragama Islam. Sebanyak 800 ribu masjid, dan 28 ribu pesantren tersebar di seantero nusantara. Dan yang lebih menarik, jumlah milenial muslim mencapai sekitar 88 juta orang atau 33,75% yang menjadi bonus demografi, karena mereka lah yang akan menjadi konsumen potensial produk halal sebagai kaum usia produktif.

Di industri keuangan syariah, Indonesia sudah memiliki lembaga keuangan syariah yang lengkap, mulai dari perbankan syariah, pasar modal syariah, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah mencakup asuransi, dan lembaga pembiayaan syariah.

 Baca Juga: Go Big With Go Public

Tantangannya, indeks literasi dan inklusi pasar keuangan syariah masih rendah jika dibandingkan literasi dan inklusi pasar keuangan nasional.

Saatnya pengembangan pasar keuangan syariah memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Teknologi dapat meningkatkan akses keuangan masyarakat. Transformasi jasa keuangan meliputi digital banking, peer to peer landing, fintech payment, insurtech, dan investasi melalui marketplace.

Potensi digital di Indonesia berdasarkan hasil survey World Bank 2017 menunjukkan data yang menakjubkan. Dari 267 juta penduduk Indonesia, sebanyak 54,68% adalah penguna internet, yakni sebanyak 143,26 juta.

Sebanyak 49,52% adalah pengguna internet antara usia 19-34 tahun. Dan dari jumlah tersebut 7,39% pengguna internet mengakses layanan perbankan.

Sebanyak 177,9 juta penduduk Indonesia adalah pengguna smartphone. Hebatnya, 74 juta jumlah middle class Indonesia akan menikmati bonus demografi di tahun 2030. Saat data ini dirilis tahun 2017 ada 88 juta milenial di Indonesia.

Dari data-data ini, menunjukkan peluang pengembangan industri halal melalui teknologi. Bagaimana membuat Indonesia menjadi halal hotspot. Untuk itu Indonesia harus dapat menjawab tantangan dan mencari solusi untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan berbagai institusi syariah yang ada.

Meningkatkan literasi syariah, memperbesar pangsa pasar, meningkatkan SDM dan mengembangan teknologi keuangan syariah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah berkomitmen untuk mengembangkan keuangan syariah, dengan tagline, “Mengatur, Mengawasi, dan Melindungi untuk Industri Keuangan Syariah yang Sehat.

Ada tiga misi industri keuangan syariah 2017-2019, yakni, pertama, meningkatkan kapasitas kelembagaan dan ketersediaan produk industri keuangan Syariah yang lebih kompetitif dan efisien.

Kedua, memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketiga, meningkatkan inklusi produk keuangan syariah dan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.

Selain bank komersial, IKNB dan pasar modal syariah, saat ini juga sudah ada 53 bank wakaf mikro (BWM) yang difasilitasi oleh Laznas. Total pembiayaan yang disalurkan BWM sudah mencapai Rp18,5 miliar per Maret 2019 dengan 15.236 nasabah yang mendapatkan pembiayaan.

Sementara total Kumpi (Kelompok Masyarakat Sekitar Pesantren Indonesia) sebanyak 2.404 Kumpi. Jika disimpulkan, maka ekonomi syariah menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi (engine of growth). (TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini