nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OJK Diminta Investigasi Penjualan Bank Permata

Jum'at 21 Juni 2019 15:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 21 278 2069211 ojk-diminta-investigasi-penjualan-bank-permata-r2zn1dzmUu.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Pemilik Bank Bali, Rudy Ramli meminta agar proses penjualan saham Bank Permata oleh Standart Chartered Bank dihentikan (suspend).

“Saya meminta agar proses penjualan saham itu dihentikan, dan OJK melakukan investigasi khusus. Segera,” kata Rudy Ramli seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Jumat (21/6/2019).

 Baca Juga: Gelar RUPST, Bank Permata Rombak Susunan Direksi

Bank Bali, adalah salah satu bank yang digabungkan menjadi Bank Permata, bersama empat bank yang lain (Bank Umam Nasional, Bank Media, Bank Patriot, Bank Universal). Bank Bali menjadi leader dalam proses merger tersebut.

Usaha pemindahan kepemilikan saham Bank Permata milik Standard Chartered Bank (SCB), sangat diharapkan dilakuan secara transparan. Rudy berharap otoritas yang berwenang, untuk menggunakan kekuasaannya untuk investigasi, karena lima alasan utama yaitu transparansi, keadilan dan kebenaran, mempertahankan aset bangsa, dan mencegah terulangnya kasus yang sama demi kehormatan bangsa.

Namun demikian, kata dia, persoalannya adalah ketika masuk kelolaan BPPN, Bank Bali dilikuidiasi senilai Rp11,89 triliun. Nilai tersebut jauh lebih besar dari harga beli yang dikeluarkan Standard Chartered, yakni hanya senilai Rp 2,77 triliun. “Sehingga ada potensi kerugian negara sekitar Rp9 triliun,” lanjut Rudy.

 Baca Juga: Bank Permata Bukukan Laba Bersih Rp377 Miliar di Kuartal I-2019

Kerugian ini, kata Rudy, diprediksi akan semakin besar dengan aksi Standard Chartered yang berupaya melepas saham-sahamnya di Bank Permata. Oleh karena itu, terkait hal tersebut, Rudy telah melaporkan persoalan ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Oktober 2018 lalu.

“Sementara baru itu langah hukum yang kami lakukan. Normalnya calon investor Bank Permata mungkin akan berpikir ulang untuk membeli saham dari Standard Chartered. Namun kalau ternyata sampai ada pembeli yang jadi, kami mempertimbangkan untuk melakukan (gugatan) langkah hukum lain,” tambahnya.

Menurut Rudy, bahwa siapapun yang ingin memiliki asset di Indonesia, terutama institusi strategis seperti bank, hendaknya transparan dan jelas, siapa pemiliknya, dan asal dananya. “Apakah kedua hal itu sudah dipenuhi oleh SCB?,” tanya Rudy.

Dalam laporan tahunan SCB ditemukan sebuah kejanggalan pada annual report SCB tahun 2006, dan beberapa tahun setelahnya, yang menunjukan kejanggalan kepemilikan SCB atas Bank Permata.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini