nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Disebut Utang Membengkak, Bos Wika: Kalau Tak Naik Mending Tidur Saja di Rumah

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 07 Agustus 2019 16:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 07 278 2088930 disebut-utang-membengkak-bos-wika-kalau-tak-naik-mending-tidur-saja-di-rumah-ktaxWFoa7V.jpg Akuntan (Shutterstock)

JAKARTA - Perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut-sebut memiliki utang yang membengkak selama lima tahun belakangan ini. Hal tersebut menyusul pembangunan infrastruktur yang masif oleh pemerintah dalam lima tahun belakangan ini.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Wijaya Karya (Wika) Tumiyana mengatakan, utang yang terus bertambah merupakan salah satu bukti perusahaan itu sedang tumbuh. Karena dengan utang artinya perusahaan tersebut masih produktif karena banyak pekerjaan yang digarap.

 Baca juga: Laba Wika Naik 60% Berkat Kontrak Baru Senilai RP15,23 Triliun di Semester I

“Kalau enggak naik (utangnya) enggak usah kerja, mending di rumah tidur. Selama itu tumbuh dan kaidah keuangan dipenuhi,” ujarnya si Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (6/8/2019).

Menurut Tumiyana, tidak masalah sebuah perusahaan untuk berutang. Apalagi, utang yang ditarik untuk sektor produktif yakni pembangunan infrastruktur.

 Baca juga: Wika Incar 1 dari 6 Proyek Tol yang Dilelang

Sebab menurut Tumiyana, nantinya perseroan akan mendapatkan ritern dari infrastruktur yang dibangun tersebut. Sebagai contoh membangun jalan tol, meskipun harus berutang nantinya perusahaan akan mendapatkan untung dari pengoperasian jalan tol tersebut.

Lagi pula, dalam berutang perseroan akan tetap memperhatikan rasionya. Jika dianggap berbahaya maka perseroan tidak akan mengambil utang.

 Baca juga: Naik 60,48%, Laba Bersih Wijaya Karya Capai Rp1,01 Triliun

“Jadi kalau ada orang ngomong perusahaan konstruksi kebanyakan utang itu saya luruskan. Namanya perusahaan tumbuh itu debt. Tapi rasionya terkontrol enggak,” jelasnya

Sebagai informasi, WIKA sendiri mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,01 triliun pada semester I 2019. Angka tersebut tumbuh 60,48% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya Rp 632,52 miliar.

Pada semester I 2019, pihaknya memperoleh kontrak baru sebesar Rp 15,23 triliun. Segmen infrastruktur dan gedung berkontribusi sebesar 39,27%, segmen energi dan industrial plant sebesar 39%, segmen industri sebesar 17,6%, dan segmen properti sebesar 4,12%.

Selama semester I-2019, WIKA melaporkan bagian laba entitas ventura bersama tumbuh 110,23% secara tahunan, dari Rp151,85 miliar menjadi Rp319,23 miliar. Adapun jumlah pendapatan lain-lain yang dibukukan oleh kontraktor pelat merah tersebut senilai Rp248,8 miliar pada semester I-2019. Posisi itu berbalik dari jumlah beban lain-lain Rp396,92 miliar pada semester I-2018.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini