nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengembangan Jargas Bisa Kurangi Impor Migas?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 08 Agustus 2019 12:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 08 320 2089288 pengembangan-jargas-bisa-kurangi-impor-migas-H1K94FyyFQ.jpg Foto: Dirut PGN (Giri/Okezone)

JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) akan terus mengakselerasi pengembangan infrastruktur dan bisnis jaringan gas bumi. Langkah ini dinilai bisa mengurangi impor migas yang saat ini angkanya masih sangat besar.

 Baca Juga: Habis Beli Pertagas, PGN Siap Terbitkan Surat Utang Global

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan, dalam upaya memperluas pemanfaatan gas bumi ke seluruh wilayah di Indonesia pihaknya akan terus melakukan pembangunan infrastruktur gas bumi nasional. Dirinya percaya dengan pembangunan infrastruktur gas bumi yang masif akan bisa meningkatkan kehandalan penyaluran gas dengan harga yang kompetitif.

"PGN akan mengelola rantai bisnis midstream dan downstream secara terintegrasi, baik optimasi pasokan, infrastruktur, serta pengelolaan pasar di seluruh wilayah Indonesia sehingga akan meningkatkan kehandalan penyaluran gas bumi, serta penyediaan gas dengan harga yang kompetitif dengan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha penyediaan gas bumi," ujarnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (8/8/2019).

 Baca Juga: Neraca Perdagangan Juni Surplus, Menko Darmin Soroti Sektor Migas

Saat ini subsidi energi semakin membesar menyusul pertumbuhan permintaan energi yang semakin besar. Oleh karenanya satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri adalah dengan melakukan impor.

Apalagi ketersediaan cadangan migas dalam negeri semakin menipis seiring terus meningkatnya konsumsi nasional. Oleh karenanya diperlukan pembangunan jaringan gas baru untuk menambah stok gas dalam negeri.

Namun menurut Gigih, untuk merealisasikan hal tersebut, utilisasi gas bumi juga membutuhkan akselerasi dan kerjasama seluruh stakeholder untuk bisa menopang kemandirian energi yang diharapkan dapat mencapai 22% pada 2025.

Berdasarkan data realisasi penyaluran gas untuk domestik yang diambil dari laporan tahunan SKK Migas tahun 2018, dari total kontrak penjualan sebesar 1.948 bbtud, realisasi pemanfaatan gas bumi oleh industri domestik hanya sebesar 1.698 bbtud atau berkisar 87% dari total kontrak penjualan.

Hal ini diakibatkan salah satunya adalah karena keterbatasan ketersediaan infrastruktur gas bumi yang dapat di akses oleh pengguna gas bumi sektor industri. Saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan kemandirian energi nasional.

Dengan semakin membengkaknya subsidi energi. Tercatat pada tahun 2019 subsidi energi yang digelontorkan lebih kurang Rp100 Triliun untuk BBM maupun LPG.

Kembali publik diingatkan akan rencana bauran energi yang sudah digagas dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) di mana ditargetkan konsumsi minyak bumi seharusnya semakin menurun menjadi 23 % ditahun 2025 dibanding ditahun 2017 yang masih tercatat sebesar 42 %.

"Namun dengan makin meningkatnya pertumbuhan permintaan BBM, di sisi lain isu lingkungan juga menyeruak beberapa waktu ini di kalangan masyarakat ibu kota. Gas bumi adalah salah satu jawaban untuk mengurai permasalahan ini," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini