nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPS Waspadai Stok Pangan di Musim Kemarau Berkepanjangan

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 02 September 2019 14:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 02 20 2099598 bps-waspadai-stok-pangan-di-musim-kemarau-berkepanjangan-HyBLIfCnMB.jpg Bagaimana Stok Pangan di Musim Kemarau Berkepanjangan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) meminta pemerintah untuk menjaga stok pangan di sisa tahun ini. Mengingat, musim kemarau terus berlanjut hingga Oktober 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, antisipasi perlu untuk menjaga angka inflasi tetap sesuai target pemerintah yakni 3,5% plus minus 1%. Mengingat, apalagi angka inflasi Januari hingga Agustus 2019 sudah mencapai 2,48% (year to date/ytd).

Baca Juga: Harga Naik 3,98%, Emas Penyumbang Inflasi Agustus 2019

"Musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung sampai dengan Oktober pasti akan berdampak pada produksi bahan pangan. Itu perlu diwaspadai pemerintah untuk menjaga pasokan," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/9/2019).

Musim Kemarau

Meskipun begitu, pria yang kerap disapa Kecuk mengatakan, sepanjang 2019 pemerintah dinilai cukup berhasil mengendalikan harga bahan pangan. Meskipun masih ada beberapa kenaikan pada harga pangan namun jumlahnya relatif kecil.

Baca Juga: Ada Kerusuhan, BPS Papua Tak Gelar Rilis Inflasi Agustus

Pada Agustus harga bahan pangan mengalami deflasi sebesar 0,19% dan memberikan andil inflasi 0,06%. Hal ini tidak terlepas dari penurunan harga bawang merah lantaran sudah masuk musim panen raya di berbagai sentra produksi.

"Panen raya sudah terjadi berbagai sentra produksi bawang merah seperti di Bima, Pati, Nganjuk, dan Brebes. Andil bawang merah ke deflasi 0,08%," ucapnya. .

Adapun beberapa komoditas pangan yang masih memiliki andil kepada inflasi adalah cabai rawit dan cabai merah. Sementara bawang putih memberi andil deflasi sebesar 0,02%. Daging ayam ras dan sayur buah-buahan masing-masing menyumbang 0,01%.

"Dari kelompok pangan, cabai merah memiliki andil 0,20% karena kenaikan harga. Selain itu, cabai rawit juga menyumbang 0,06%," jelas Kecuk.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini