nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Google: Pertumbuhan Ekonomi Digital RI Paling Cepat, Bisa Tembus USD133 Miliar

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 13:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 07 320 2113795 google-pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-paling-cepat-bisa-tembus-usd133-miliar-tZ8QtpHt0G.jpg Google soal Ekonomi Digital (Foto: Okezone.com/Giri)

JAKARTA - Google, Temasek dan Bain & Company mengeluarkan laporan e-Conomy SEA 2019. Dalam laporan tersebut memuat laporan tren pertumbuhan ekonomi digital di wilayah Asia Tenggara.

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf mengatakan, penetrasi ekonomi digital di Asia Tenggara tumbuh sangat cepat dalam lima tahun terakhir. Termasuk juga pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

 Baca Juga: Google: Asia Tenggara Mulai Kejar Amerika untuk Urusan Ekonomi Digital

Ekonomi digital Indonesia diprediksi akan mencapai USD40 miliar pada 2019 ini. Angka ini tumbuh lima kali lipat dibandingkan 2015 hanya mencapai USD8 miliar saja.

“Dibandingkan negara lain Indonesia paling besar dibandingkan negara lain. Kedua paling cepat. Kalau dilihat growth-nya 20%-30%,” ujarnya dalam paparan di Kantor Google Indonesia, Jakarta, Senin (7/10/2019).

 Baca Juga: 3 Jurus Ampuh Geber Ekonomi Digital, UKM Harus Kuasai Pemasaran Online

Bahkan menurut Randy, ekonomi digital Indonesia berpotensi mencapai USD133 miliar dalam lima tahun ke depan atau pada tahun 2025. Angka ini melampaui prediksi tahun lalu sebesar Iebih dari 30%.

“Prediksi ke depan Indonesia juga akan terus cepat. Kita sebagai cukup existing growth-nya sangat cepat sekali,” ucapnya.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin

Dalam laporan regional tahun 2019 ini mencakup Iima sektor. Kelima sektor tersebut yakni e-commerce, media online, transportasi online, wisata & perjalanan, dan jasa keuangan digital sektor yang baru ditambahkan tahun ini.

“Dalam empat tahun ke depan, laporan memprediksi pertumbuhan 12 kali Iipat untuk sektor e-commerce Indonesia dan pertumbuhan 6 kali lipat untuk transportasi online. Pembiayaan di Indonesia juga berpotensi untuk melebihi rekor yang tercatat pada tahun 2018,” katanya.

Nantinya lanjut Randy, Jabodetabek tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan di Indonesia. Pengguna yang tinggal di area tersebut membeIanjakan uang senilai USD555 per kapita (dalam GMV) dibandingkan USD103 di area non-metro, meski daerah non-metro diperkirakan akan bertumbuh dua kali Iebih pesat dalam enam tahun ke depan.

“Kota di Jakarta ini mempresentasikan 15% dari populasi. Pattern-nya kalau di metro 6 kali lipat dari non metro,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini