nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Google: Asia Tenggara Mulai Kejar Amerika untuk Urusan Ekonomi Digital

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 12:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 07 320 2113782 google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital-4OPOpOSIJf.jpg Google soal Ekonomi Digital (Foto: Okezone.com/Giri)

JAKARTA - Asia Tenggara menjadi kawasan paling potensial untuk ekonomi digital. Pasalnya, dalam laporan e-Conomy SEA tahun ini yang disusun oleh Google. Temasek, dan Bain & Company menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi digital yang pesat di Asia Tenggara.

 Baca Juga: Menperin: Digital Akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi hingga 2%

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf mengatakan, tumbuh pesatnya angka ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara didorong oleh jumlah pengguna internet. Saat ini angka pengguna internet di kawasan asia tenggara mencapai 360 juta.

Angka ini mengalami kenaikan hampir lima kali lipat dibandingkan tahun 2015. Pada 2015, angka pengguna internet di kawasan Asia Tenggara hanya sebanyak 100 juta saja.

 Baca Juga: Pengusaha Minta Pajak Ekonomi Digital Bersifat Adil

“Negara di Asia Tenggara terus closing the gap dengan negara-negara seperti Amerika,” ujarnya dalam acara paparan di Kantor Google, Jakarta, Senin (7/10/2019).

Meskipun begitu lanjut Randy, masi ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dikejar oleh negara-negara di Asia Tenggara. Karena dari jumlah 360 juta, hanya setengahnya saja yang sudah paham dan menggunakan teknologi digital untuk mengembangkan perekonomian.

“Yang berpartisipasi baru 180 juta. Setengahnya lagi mungkin udah berpartisipasi dengan Whatsapp tapi belum berpartisipasi di internet ekonomi. Jadi kesempatannya sangat besar. Kita sudah maju tapi kesempatan untuk maju masih sangat besar,” katanya.

Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain & Company Florian Hoppe mengatakan, meskipun tumbuh pesat namun masih ada beberapa gap yang harus dikejar oleh negara-negara di Asia Tenggara. Salah satunya adalah masih rendahnya akses keuangan digital dari masyarakatnya.

“Dengan 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan dan 92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data dapat dimanfaatkan untuk mengubah cara orang Indonesia menangani pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi online,” katanya.

Tentunya menurut Hoppe, hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh pemain-pemain besar. Utamanya seperti Indonesia dan Vietnam yang memiliki potensi pertumbuhan paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Terdapat kekurangan akses untuk layanan keuangan di Asia Tenggara dan ini jelas merupakan peluang bagi Indonesia, yang hanya 42 juta penduduknya memiliki rekening bank,” katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini