nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Setelah PLN, Menteri Jonan Sindir Pertamina soal Pabrik Petrokimia

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 14 Oktober 2019 17:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 14 320 2116750 setelah-pln-menteri-jonan-sindir-pertamina-soal-pabrik-petrokimia-TibdpXpUEI.jpg Jonan Sindir Pertamina (Foto: Okezone)

JAKARTA - Setelah PT PLN (Persero), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan kembali menyindir PT Pertamina (Persero). Pasalnya, hingga saat ini perusahaan minyak plat merah ini tak kunjung membangun pabrik petrokimia.

 Baca Juga: Sindiran Menteri Jonan untuk Para Bos PLN

Justru menurutnya, perusahaan-perusahaan swasta lah yang sudah lebih dahulu membangun pabrik petrokimia di Indonesia. Berdasarkan pengetahuannya ada dua perusahaan swasta yang sudah lebih dahulu membangun pabrik petrokimia, keduanya yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan PT Lotte Chemical Indonesia.

"Di mixstream kita paling malas. 25-30 tahun Chandra Asri bangun pabrik petrokimia. Bahan bakunya naftah. Itu orang di Pertamina sekolahnya apa, kok tidak bangun pabrik petrokimia," ujarnya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/10/2019).

 Baca Juga: Pertamina Gandeng Taiwan Bangun Pabrik Petrokimia USD6,49 Miliar

Hal tersebut menurut Jonan sangat disayangkan, mengingat ke depan, akan lebih condong pada kegiatan midstream. Artinya ke depan ini kegiatan utama dari industri migas adalah condong ke arah transportasi untuk crude oil, natural gas, LPG dan LNG Tanker.

Selain, itu, lewat industri petrokimia ini diyakini bisa menekan angka defisit neraca perdagangan Indonesia yang masih sangat tinggi. Hal ini dikarenakan masih sedikit sekali ekspor produk dari industri petrokimia sedangkan impornya masih cukup tinggi.

 Ilustrasi Kilang

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian mencatat industri petrokimia menjadi pendorong defisit terbesar pada neraca perdagangan Indonesia. Pasalnya, industri ini belum mandiri di mana bahan bakunya masih mengandalkan impor dari luar negeri.

Industri ini tercatat mengimpor bahan petrokimia sebesar USD20 miliar atau Rp282,88 triliun setiap tahunnnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat industri petrokimia di Indonesia sudah lengkap subsektornya.

 Menteri ESDM Ignasius Jonan Dialog dengan WNI di Houston AS

Angka tersebut menunjukkan bahan Petrokimia dan bahan kimia menjadi 30% dari total barang impor nasional. Hal ini sama besarnya dengan barang modal dan barang konsumsi yang masing-masing sebesar 30%.

“Minyak paling banyak untuk transportasi. Gas mungkin masih lebih panjang, karena nanti akan gantikan batu bara untuk ganti PLTGU yang emisinya lebih rendah, PLTGU baru emisi di bawah 50 ppm. Ini akan kita dorong juga, tapi ini long term it has to go to petrokimia," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini