nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenkeu Prediksi Defisit APBN 2019 Bisa Melebar Capai 2,2%

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 25 Oktober 2019 14:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 25 20 2121635 kemenkeu-prediksi-defisit-apbn-2019-bisa-melebar-capai-2-2-qeL34BQlWK.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan akan ada pelebaran defisit pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 2,2%. Angka ini melebar dari terget yang ditetapkan pada APBN 2020.

Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman mengatakan, target defisit APBN tahun jni adalah sebesear 1,87%. Sedangkan jika dibandingkan berdasarkan outlook adalah diperkirakan defisit APBNnya adalah 1,93%.

Baca Juga: Anggaran Subsidi Sudah Tersedot Rp103,4 Triliun

"Defisit bisa saja melebar dikisaran 2%-2,2% terhadap PDB, jadi itu full year sampai akhir tahun," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian Keuangan, Jumat (25/10/2019).

Grafik Ekonomi

Ada beberapa hal yang menyebabkan pihaknya memprediksi adanya pelebaran defisit APBN. Salah satunya adalah karena kondisi ketidakpastian global yang belum mereda sehingga menekan terus perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Penerimaan Pajak Lesu, Sri Mulyani: Ekonomi Alami Penurunan

"Artinya, ketika ekonomi dalam tekanan, itu butuh stimulus supaya ekonomi tidak terpuruk dalam. Salah satunya pelebaran defisit, karena APBN alat menghadapi perekonomian kita," jelasnya.

Meskipun begitu lanjut Luky, dirinya meminta kepada para investor untuk tidak khawatir dengan pele aran defisit APBN ini. Sebab, pemerintah akan tetap menjaga defisit tidak lebih dari batas yang ada di Undang-Undang keuangan negara.

"Tapi saat lakukan itu kita selalu punya rambu-rambu, kita prudent, dan ada batas-batasannya. Kami akan tetap jaga sesuai perundang-undangan," jelasnya.

Menurut Luky, pihaknya sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi segara untuk pembiayaan APBN 2019. Misalnya dengan mengoptimalkan pembiayaan yang efektif mengingat penerimaan negara tidak terlalu baik dengan kondisi ekonomi saat ini.

"Apalagi ekspor juga pertumbuhannya maih negatif karena perdagangan internasional yang juga turun," kata Luky.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini