Orang Tajir dan CEO Bisa Kelihatan dari Gaya Tidurnya, Kalau Karyawan Biasa?

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Rabu 30 Oktober 2019 08:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 29 320 2123196 orang-tajir-dan-ceo-bisa-kelihatan-dari-gaya-tidurnya-kalau-karyawan-biasa-PITvNxqwfd.jpg Tidur (Foto: Flickr)

JAKARTA - Banyak CEO sukses seperti CEO Amazon Jeff Bezos hingga CEO Apple Tim Cook memilih untuk bangun tidur lebih awal untuk menjadi produktif.

Pasalnya, Cook terkenal karena selalu bangun pada pukul 3:45 pagi. Selain itu ada CEO Tesla Elon Musk yang baru tidur pukul 1 pagi dan bangun pada pukul 7 pagi. Menurut Musk, Dia menjadi nyaman ketika tidur selama enam jam.

 Baca Juga: Pantaskah CEO Dibayar Setinggi Langit?

Sementara jadwal tidur ini tampaknya efektif bagi CEO yang memiliki kinerja serta bayaran tinggi, justru fenomena kekurangan tidur di kalangan orang Amerika yang memiliki pekerjaan biasa terus meningkat. Itu merupakan sebuah studi baru dari para peneliti Ball State University.

Dikutip dari CNBC, Rabu (30/10/2019), sekitar 35% orang dewasa yang bekerja di Amerika Serikat tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk tidur. Hal ini berkaitan erat dengan tuntutan pekerjaan dan stres yang mereka alami.

 Baca Juga: 7 Hal yang Hanya Bisa Dilakukan Miliarder, Habiskan Rp11 Juta untuk Cukur Rambut

Untuk penelitian ini, para peneliti menganalisis data tidur dari National Health Interview Survey, yang mencakup 158.468 orang yang bekerja di atas usia 17 tahun. Mereka menemukan bahwa jumlah orang yang tidur kurang dari enam jam setiap malam naik sekitar 5% dalam rentang tahun 2010 hingga 2018. Sementara itu, orang dewasa yang berusia 18 tahun ke atas seharusnya tidur tujuh hingga delapan jam setiap harinya.

 Orang Kaya

Tempat kerja di mana kekurangan tidur paling umum terjadi adalah di tempat yang memberikan layanan perlindungan seperti polisi, petugas pemadam kebakaran, dan militer. Lalu juga tempat dukungan perawatan kesehatan seperti dokter dan perawat, tempat kerja yang berbasis transportasi dan pemindahan material seperti pengemudi truk, hingga pabrik.

"Ini membingungkan karena banyak dari pekerjaan ini sangat berkaitan dengan kesehatan penduduk, kesejahteraan, dan layanan keselamatan,” tulis para peneliti.

Sebenarnya, ini sangat mengganggu karena waktu tidur berdampak pada kinerja dan produktivitas sehari-hari. Tidur yang cukup mampu meningkatkan kemampuan untuk belajar, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah. Di sisi lain, ketika mengalami kekurangan tidur, dibutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan cenderung membuat lebih banyak kesalahan. Bagaimana tidak, studi-studi sebelumnya telah membuktikan bahwa dokter yang tidurnya tidak cukup sering melakukan kesalahan.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin

Meskipun penelitian ini tidak menjelaskan mengapa pekerjaan sangat berkaitan dengan kekurangan tidur, para peneliti menulis bahwa orang yang bekerja berjam-jam, serta mereka yang tidak memiliki kendali atas jadwal kerja mereka, bisa jadi mereka kesulitan dalam tidur. Pekerjaan yang menimbulkan stres tinggi juga bisa menjadi kabar buruk bagi orang yang biasa memiliki jam tidur yang konsisten dan berkualitas.

Menariknya, wiraswasta memiliki tingkat kekurangan tidur terendah. Namun wajar, sebab mereka dapat mengatur jadwal mereka sendiri.

Untungnya, ada kebiasaan kecil yang dapat meningkatkan kualitas tidur. Sebagai contoh, melakukan kegiatan relaksasi sebelum tidur seperti membaca, melatih kesadaran, berolahraga empat hingga delapan jam sebelum tidur, dan menghindari alkohol adalah strategi yang baik untuk tidur.

Memperkenalkan program pengurangan stres atau mendidik karyawan tentang kebiasaan tidur yang baik adalah salah satu cara yang dapat digunakan pengusaha untuk membantu orang agar mendapatkan tidur yang lebih baik, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas di tempat kerja.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini