nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Pastikan Kelapa Sawit Masuk Dalam Negosiasi Dagang IUE-CEPA

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 17:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 19 320 2131850 pemerintah-pastikan-kelapa-sawit-masuk-dalam-negosiasi-dagang-iue-cepa-NIxUm6WBnQ.jpg Sawit (Reuters)

JAKARTA - Pemerintah terus berupaya untuk mendorong komoditas kelapa sawit bisa kembali masuk ke kawasan Uni Eropa. Salah satunya dengan memasukkan isu tersebut ke dalam perjanjian kemitraan antara Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA).

Seperti diketahui, Uni Eropa telah meloloskan aturan pelaksanaan (delegated act) dari Arahan Energi Terbarukan II (Renewable Energy Directive/RED II) di kawasan tersebut pada 10 Juni 2019 lalu. Di mana kelapa sawit diklasifikasikan sebagai bahan bakar nabati tak berkelanjutan dan merusak lingkungan, sehingga penggunaan biofuel yang berbasis kelapa sawit dilarang di Uni Eropa.

 Baca juga: Atasi Diskriminasi Minyak Sawit, Menlu Retno Beberkan Langkah Diplomasi

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi memastikan, pihaknya akan terus melanjutkan negosiasi perjanjian dagang dengan Uni Eropa. Khususnya terkait komoditas kelapa sawit salah satunya terkait kelapa sawit.

 Sawit

"Kami juga konsentrasi ke IEU-CEPA. Kami hanya memastikan bahwa sawit akan menjadi salah satu elemen yang dinegosiasikan dengan Uni Eropa," ujarnya dalam Rakernas Kadin Hubungan Internasional di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (19/11/2019).

 Baca juga: Setuju soal Sawit, Indonesia Diminta Beli Beras dan Gula India

Retno ingin perjanjian dagang dengan Uni Eropa dapat menjadi jembatan untuk meperbaiki hubungan kerjasama perdagangan antar kedua pihak pasca ditetapkannya aturan RED II. Menurutnya, isu kelapa sawit menjadi sangat penting mengingat ada 16 juta kehidupan masyarakat Indonesia yang bergantung pada komoditas tersebut.

"Kalau bisa mengenai sawit itu bisa deal. Karena ada 16 juta masyarakat yang bekerja dengan industri soal minyak kelapa sawit," kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesida Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani menyatakan, pembahasan perjanjian dagang IUE-CEPA tak bisa diselesaikan dengan singkat. Terlebih ada pembahasan terkait isu kelapa sawit di dalamnya.

"Tapi bagaimana pun negosiasi perjanjian ini harus tetap berjalan meski akan makan waktu," ungkapnya.

Menurutnya, perjanjian IUE-CEPA sangat penting bagi Indonesia, disamping membahas keberlangsungan ekspor komoditas sawit ke kawasan tersebut, namun juga berkaitan dengan kepentingan sektor padat karya Indonesia yang selama ini kalah bersaing dengan Vietnam.

"Kalau dihentikan semuanya, kita akan kalah dengan Vietnam yang sudah mendahului menyelesaikan ini. Maka ini targetnya rampung akhir tahun depan," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini