nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pekerjaan Sambilan Elon Musk di Usia 17 Tahun Sebelum Jadi Miliarder

Hairunnisa, Jurnalis · Sabtu 04 Januari 2020 18:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 04 320 2149220 pekerjaan-sambilan-elon-musk-di-usia-17-tahun-sebelum-jadi-miliarder-SetHZGdZj3.jpg Elon Musk (Foto: CNBC)

JAKARTA - Elon Musk dikenal sebagai bos Tesla dan SpaceX, tetapi jauh sebelum dirinya menjadi sukses di Silicon Valley, Musk hanyalah seorang pekerja paruh waktu.

Pada usia 17 tahun, Musk meninggalkan rumahnya yang berada di Afrika Selatan pergi menuju kota kelahiran ibunya, yaitu Kanada. Di sana ia tinggal bersama sepupunya.

Awalnya, Musk bekerja di pertanian sepupunya yang berada di Waldeck, Saskachewan, yaitu sebuah desa kecil yang pada 2016 lalu hanya memiliki populasi kurang dari 300 orang. Di sana Musk merawat sayur-sayuran dan membersihkan tempat sampah.

 Baca Juga: 15 Ide Gila Elon Musk, dari Tinggal di Mars hingga Kecerdasan Buatan

Selain itu di sana juga Musk belajar memotong kayu dengan gergaji di Vancouver, British Columbia. Musk pernah mengambil pekerjaan sulit yaitu, membersihkan ruang ketel dari pabrik kayu dengan upah USD18 atau setara dengan Rp250.923 (dalam kurs Rp13.940) per jamnya.

Pada saat itu Musk harus memakai jas hazmat (yaitu setelan jas pengaman dari bahaya) dan kemudian berjalan melalui terowongan kecil yang hampir tidak bisa dilalui. Kemudian, harus menyekop, dan mengambil pasir dan goop, yang masih mengepul panas dan harus menyekopnya melalui lubang yang sama dengan lubang dimasuki.

"Tidak ada jalan keluar. Seseorang di sisi lain harus menyekopnya lalu ditaruh ke gerobak dorong. Jika kamu tinggal di sana selama lebih dari 30 menit, itu akan sangat panas dan bisa menyebabkan kematian” ungkap Musk seperti yang dikutip dari CNBC.com, Sabtu (4/1/2020).

Baca Juga: Elon Musk: Kita Sebenarnya Adalah Cyborg

Awalnya di sini Musk bekerja dengan 30 orang pada awal minggunya. Kemudian pada hari ketiga, hanya lima orang yang tersisa. Pada akhir minggu pun, Musk hanya memiliki dua orang pekerja untuk melakukannya. Musk pun menyerah pada pekerjaan manual ini dan mulai mengejar teknologi.

Musk yang lulus di Universitas Pennsylvania pada tahun 1997 ini mengambil program pascasarjana Teknik Material Science-nya di Universitas Stanford, California. Meskipun diterima di Stanford tetapi Musk tidak pernah mendaftar di kelas-kelas yang ada.

Musk mulai merintis usahanya di Silicon Valley pada saat itu, dan melamar pekerjaan di Netscape dan tertarik pada internet yang pada saat itu baru lahir. Alhasil, ia tidak mendapat pekerjaan di sana.

Dia punya dugaan mengapa dia tidak mendapatkannya, bisa jadi karena dia memiliki gelar dari Wharton dan diterima untuk melakukan pekerjaan sekolah pascasarjana dalam ilmu fisika dan bahan, tetapi dia tidak memiliki gelar ilmu komputer, atau pernah beberapa tahun bekerja di perusahaan perangkat lunak.

“Aku sebenarnya mencoba nongkrong di lobi [Netscape], tapi aku terlalu malu untuk berbicara dengan siapa pun. Jadi aku hanya suka berdiri di lobi, "katanya. "Itu sangat memalukan." tambahnya.

Meskipun usaha Musk awalnya tidak menguntungkan, pada tahun 1999 Musk menjual perusahaan pertamanya, Zip2 ke Compaq dengan harga sekitar USD300 juta atau sama dengan Rp4,18 triliun. Dia memulai Zip2 setelah belajar dari pengalamannya saat melamar ke Netscape, alih-alih mendapatkan gelar PhD di Stanford, Musk memutuskan untuk mencoba memulai perusahaan.

Musk berpikir akan selalu bisa kembali menempuh pendidikan jika bisnisnya ridak berhasil. Dia menggunakan uang dari penjualan Zip2 untuk membuat X.com, platform layanan keuangan online yang bergabung dengan Confinity pada tahun 2000, dan kemudian berubah menjadi PayPal. Pada tahun 2002, eBay membeli PayPal seharga USD1,5 miliar atau setara dengan Rp20,9 triliun.

Musk kemudian memulai SpaceX pada tahun 2002, diikuti oleh Tesla pada tahun 2003. Pada tahun 2016, ia mendirikan Neuralink, dan setahun kemudian, ia menciptakan The Boring Company. Saat ini menurut Forbes ia memiliki kekayaan bernilai USD27,5 miliar atau setara dengan Rp383 trilun.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini