nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gila Kerja, Pekerja Jepang Jarang Ambil Cuti Tahunan

Jum'at 17 Januari 2020 15:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 17 320 2154357 gila-kerja-pekerja-jepang-jarang-ambil-cuti-tahunan-VEIXZfjx44.jpg Seorang Pekerja Jepang Tertidur karena Kelelahan. (Foto: Okezone.com/BBC Indonesia/Getty Images)

JAKARTA – Pemerintah Jepang merilis data yang menunjukan para pekerja hanya mengambil 52,4% cuti tahunan yang menjadi hak mereka pada 2018. Jepang pun tengah menghadapi situasi seperti epidemi pada angkatan kerjanya terkait cuti tahunan yang tidak terpakai.

Alasan utama cuti tidak diambil adalah rasa bersalah, sebagai hasil dari tekanan dan ekspektasi pada masyarakat yang 'gila kerja'. Setiap tahun, seorang pekerja rata-rata punya puluhan hari cuti yang menumpuk.

Negara itu sudah sejak lama terkenal dengan budaya kerjanya yang keras. Sebagai contoh, hal yang normal bagi para pekerja di Jepang untuk menumpang kereta terakhir ke rumah setiap malam.

Baca Juga: Kecelakaan Kerja di RI Tercatat 130.923 Kasus, Turun 26,4%

Jepang juga yang menjadi tempat kelahiran karoshi atau "meninggal karena bekerja berlebihan" kata yang dicetuskan pada 1970-an untuk menggambarkan stress dan tekanan terkait pekerjaan.

Sayangnya, kata itu masih relevan hingga sekarang di Jepang.

"Masyarakat Barat merupakan masyarakat yang individualistik dan tidak hierarkis, tapi masyarakat Jepang adalah masyarakat yang kolektif dan hierarkis," jelas, Profesor Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Hitotsubashi Hiroshi Ono, dilansir dari BBC News Indonesia, Jumat (17/1/2020).

Baca Juga: Pekerja Wanita Singapura Terima Gaji 6% Lebih Sedikit Dibanding Pria

"Karena itu, banyak orang menahan diri untuk mengambil libur karena bos mereka tidak mengambil libur, atau mereka takut itu akan mengganggu keharmonisan kelompok," sambung Hiroshi yang khusus menekuni budaya kerja Jepang.

Contoh pekerja yang jarang mengambil cuti adalah Hideyuki. Dirinya bisa menghitung jari pada satu tangan, jumlah cuti kerja yang dia ambil selama setahun terakhir.

"Satu hari pada bulan April saat putri saya masuk sekolah dasar; dan dua setengah hari pada bulan November untuk hari orang tua dan pertunjukan di sekolah. Ini lebih dari yang biasanya saya ambil," paparnya.

Tahun sebelumnya, insinyur yang bekerja untuk perusahaan teknologi di Tokyo itu hanya mengambil dua hari cuti. Ini bukan karena jumlah cutinya terbatas, bahkan Hideyuki sejatinya berhak atas 20 hari cuti tahunan.

Pasalnya, seperti banyak pekerja Jepang lainnya, mengambil cuti lebih dari jumlah minimum sama sekali bukan pilihan.

"Sulit karena suasana di tempat kerja membuat saya tidak bisa mengambil cuti lebih banyak," kata Hideyuki, yang punya dua anak berusia enam dan empat tahun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini