nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lifting Migas Tak Capai Target, Ini Sederet Tantangannya

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 18:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 20 320 2155650 lifting-migas-tak-capai-target-ini-sederet-tantangannya-B3ONYvjpRE.jpg Ilustrasi Kilang (Foto: Reuters)

JAKARTA - PT Pertamina EP mencatatkan realisasi produksi minyak dan gas (lifting migas) pada tahun 2019 tak mencapai target, baik dalam Work Program and Budgeting (WP&B) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini didorong enam tantangan dalam memproduksi migas.

Presiden Direktur Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menyebutkan, realisasi lifting minyak perusahaannya pada tahun lalu mencapai 82.179 barel minyak per hari (BOPD).

Realisasi itu meleset dari target WPBN yang sebesar 82.500 barel oil equivalent per day (BOEPD) atau hanya mencapai 99,6% dan target APBN yang sebesar 85.000 BOPD atau mencapai 96,7%.

Baca Juga : Jadi Biang Keladi Defisit Neraca Dagang, Bagaimana Cara Turunkan Impor Migas?

"Mengacu pada target WPnB yang 99,6% itu menunjukkan sedikit lagi (mencapai target)," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Senin (20/1/2020).

Sementara untuk lifting gas tercatat mencapai 752 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Angka ini setara 97,5% dari target WPnB yang sebesar 768 MMSCFD atau setara 92,5% dari target APBN yang sebesar 810 MMSCFD.

Nanang menjelaskan, terdapat enam tantangan yang memengaruhi realisasi lifting migas Pertamina EP. Pertama, optimalisasi harga gas.

Baca Juga: Soal Harga Gas, Wamen BUMN: Sejak di Hulu Sudah Mahal

Menurutnya, upaya penyesuaian harga gas yang saat ini dinilai terlalu tinggi berdampak terhadap lifting. Hal ini berhubungan dengan proses distribusi yang belum optimal.

Tantangan selanjutnya yakni fasilitas produksi yang dimiliki sudah berusia lanjut. "Sehingga realibilitasnya di bawah 100%. Kami strugle sepanjang 2019, beberapa unplanned shutdown menjadi isu kami," kata dia.

Tak hanya itu, mayoritas sumur yang dikelola Pertamina EP yang sudah berusia lanjut juga menjadi tantangan. Hal ini berdampak pada tingginya kadar air dibandingkan minyak.

"Cuma karena kami masih bisa produksi secara ekonomis masih kita lakukan," imbuh dia.

Pertamina EP juga mendapatkan tantangan berkaitan dengan penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Menurutnya, saat ini mayoritas lapangan yang dikelola perusahaan sudah tidak bisa lagi mengandalkan teknologi primary recovery.

"Rata-rata lapangan kami primary recovery-nya di atas 26% untuk minyak. Itu sudah dibilang optimal untuk minyak," katanya.

Tantangan lainnya adalah Pertamina EP juga masih belum menemukan sumur dengan potensi lifting migas yang besar. Terakhir, perusahaan migas juga masih sering dihadapkan dengan tindak pengeboran ilegal.

Nanang bilang, hal tersebut terjadi akibat masih adanya beberapa lokasi yang belum dibebaskan lahannya di wilayah operasi Pertamina EP. "Beberapa kali terjadi kecelakaan kerja sampai ada yang meninggal," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini