nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saham Naik 6%, Valuasi Tesla Melejit Jadi Rp1.425 Triliun

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Kamis 23 Januari 2020 15:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 23 278 2157225 saham-naik-6-valuasi-tesla-melejit-jadi-rp1-425-triliun-EVl35erNjs.jpg Saham Tesla Meningkat hingga 6%. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Saham Tesla melonjak 6% pada awal perdagangan Rabu 22 Januari 2020. Nilai valuasi bisnis perusahaan pembuat mobil listrik ini pun meningkat di atas USD100 miliar atau setara Rp1.363 triliun (kurs Rp 13.637 per USD).

Melansir Business Insider, Kamis (23/1/2020), valuasi saham perusahaan milik Elon Musk ini mencapai USD104,5 miliar setara Rp1.425 triliun. Hal ini menyusul saham Volkswagen AG, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD100 miliar setara Rp1.363 triliun.

Baca Juga: Sahamnya Tembus Rekor, Miliarder China Ini Masuk Jajaran Orang Terkaya Dunia

Dengan kenaikan nilai kapitalisasi pasar itu, Tesla pun menjadi perusahaan pembuat mobil paling bernilai sepanjang masa. Kapitalisasi pasarnya melampaui jumlah saham gabungan Ford dan GM.

Kenaikan saham tersebut setelah perusahaan membukukan laba yang di luar perkiraan. Selain itu didukung angka penjualan kendaraan selama kuartal keempat yang meningkat. Ditambah lagi optimisme pasar usai Tesla membuat Gigafactory di Shanghai.

Baca Juga: Ponsel Jeff Bezos Diretas Pangeran Mahkota Arab Saudi, untuk Apa?

Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk membuat keputusan berani dengan menanamkan investasinya di China. Ada dua alasan kenapa Musk akhirnya membangun pabriknya di China.

Pertama, Tesla Model 3 China yang baru saja mulai tahap perakitan. Kedua, hal paling menarik tentang pendapat dia tentang di China. Hal ini bisa membuat ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Jepang kian tertinggal.

Musk menempatkan pabrik terbarunya di Shanghai. Hal ini jelas tidak masuk akal, karena risiko ekonomi China serta pajak impor barang yang dikenakan sebesar 25%.

China pun kini menjadi pasar terbesar kedua Tesla setelah AS. Namun, ada yang lebih penting bagaimana Presiden China Xi Jinping justru memberi insentif pada kendaraan listriknya, di mana intensif tersebut tidak diberikan di AS dan Jepang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini