nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Taspen Buka-bukaan soal Aset, Hasilnya?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 21:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 27 320 2159191 taspen-buka-bukaan-soal-aset-hasilnya-yhSohCztwo.jpeg Ilustrasi Taspen. (Foto: Okezone.com/Taspen)

JAKARTA - Direktur Utama PT Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Persero) atau Taspen, Antonius Steven Kosasih memastikan, perusahaan yang dikelolanya bukan BUMN asuransi yang bermasalah. Menurutnya, kinerja keuangan perseroan tetap terjaga baik di dorong dengan peningkatan pendapatan investasi.

Hal ini sekaligus menjawab kabar buruk yang beberapa waktu terakhir menyoroti kinerja BUMN asuransi. Taspen ikut menjadi sorotan, usai PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) mengalami permasalahan pengelolaan dana investasi.

Baca Juga: Taspen Pastikan Tak Investasi di Saham Gorengan

"Ada gosip aset (Taspen) turun, pada tahun 2018 memang turun karena banyak indeks yang meskipun tinggi tapi rendah dibandingkan 2017, jadi aset kami turun secara nilai di pasar. Tapi 2019 kami rebalancing aset dan indeks kembali positif, jadi dengan alokasi yang tepat dan strategi invetasi yang baik itu naik lagi di 2019," papar Antonius dalam konferensi pers di Menara Taspen, Jakarta, Senin (27/1/2020).

Pada tahun 2019, aset Taspen tumbuh sebesar 13,53%, naik dari Rp231,87 triliun di tahun 2018 menjadi Rp263,25 triliun di tahun 2019. Sedangkan pada tahun 2018, aset Taspen hanya mampu tumbuh 0,65% dibanding tahun 2017.

Baca Juga: Ada Panja Industri Jasa Keuangan, Bos Taspen: Peluang Kami Tunjukkan Investasi Prudent

Menurutnya, saat ini perseroan melakukan investasi pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income), yakni surat utang maupun deposito dengan porsi 86,2% dari total investasi. Sedangkan, investasi pada saham hanya sebesar 4,9% dan reksadana saham sebesar 1,3% dari total investasi.

Investasi pada saham, lanjutnya, sebagian besar dilakukan pada emiten yang terdaftar pada Indeks LQ45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip. Hal ini menunjukkan perseroan berinvestasi dengan prinsip kehati-hatian, lantaran bukan pada aset berkinerja buruk atau saham-saham gorengan.

"Sejauh ini imbal hasil rata-rata investasi di atas 9%, bisnis yang konsisten dapat imbal hasil 9% enggak banyak di Indonesia, dan kami likuid, di mana perlu (dana cair) maka uang ada," katanya.

Sementara itu, Komisaris Utama Taspen Franky Sibarani menilai, jajaran direksi telah melakukan komunikasi yang baik dengan komisaris, sehingga tata kelola perusahaan yang baik (good cooporate governance/GCG) terus berjalanan.

Dia bilang, bahkan itu tercermin dengan laporan keuangan yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari kantor akuntan publik. "Perlu juga kami sampaikan, bahwa tiga tahun berturut laporan keuangan juga selalu menghapatkan opini WTP dari kantor akuntan publik," kata dia.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini