Redam Dampak Virus Korona di Perekonomian, Apa Efektif Pemangkasan Suku Bunga China?

Hairunnisa, Jurnalis · Selasa 04 Februari 2020 13:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 04 20 2163085 redam-dampak-virus-korona-di-perekonomian-apa-efektif-pemangkasan-suku-bunga-china-RmVmjoJmGW.jpg China (reuters)

JAKARTA - Kekhawatiran tentang menyebarnya wabah virus korona dalam beberapa pekan terakhir, mendorong beberapa negara berupaya untuk melindungi pertumbuhan ekonominya dari melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Coronavirus atau virus korona yang menyebar dengan cepat telah menyebabkan sejumlah pembatasan ketat pada perjalanan dan perdagangan tidak hanya di China tetapi juga di seluruh dunia, dengan menutup perusahaan yang meningkatkan rantai pasokan.

 Baca juga: Antisipasi Virus Korona, Bank Sentral China Turunkan Tingkat Suku Bunga ke 2,4%

Mengutip dari businessinsider.sg, Selasa (4/3/2020), pemerintah China telah berjuang untuk meyakinkan bisnis dan investor dengan mengeluarkan kebijakan memangkas suku bunga pada perjanjian pembelian pada awal minggu dan menyuntikkan dana sebesar USD173 miliar atau setara dengan Rp2.379 triliun (dalam kurs Rp13.754) ke pasar uang.

Akan tetapi langkah-langkah agresif dirasa belum mungkin untuk mengimbangi kerugian dari Virus yang sedang mewabah di negara tirai bambu ini. Di mana hampir sebagian besar kegiatan ekonomi terhenti.

 Baca juga: Ada Virus Korona, Bagaimana China Bisa Selamatkan Perekonomiannya?

Selain itu diketahui bahwa Indeks Shanghai Composite ditutup turun hampir 8% pada hari Senin kemarin, menghapus sekitar USD400 miliar atau setara dengan Rp5.501 triliun.

"Kami ragu bahwa ini saja akan cukup untuk mengembalikan perekonomian China ke jalurnya, pemotongan terbaru tidak akan melakukan apa pun secara langsung untuk mengimbangi hambatan pada aktivitas ekonomi dari respons otoritas China terhadap epidemi." kata seorang ekonom di Capital Economics Hubert de Barochez.

Di Amerika, Federal Reserve menyebut virus korona sebagai "masalah yang sangat serius" dan mengatakan akan memonitor penyebarannya.

Risiko terhadap ekonomi global bisa jauh lebih besar daripada masalah kesehatan, karena sejak wabah SARS 2003 hubungan bisnis antara China dengan negara-negara lain semakin dekat.

 Baca juga: Setengah Pusat Bisnis di China Tutup karena Virus Korona, Apa Dampaknya?

Analis memperkirakan bahwa akibat dari virus ini produk domestik bruto global tahun ini akan berkurang sebanyak 0,3%. Hal ini juga akan membawa tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan ke laju paling lambat sejak krisis keuangan pada satu dekade lalu.

Banyak yang mencatat bahwa tanpa wawasan tentang berapa lama virus akan berlangsung, kerusakan mungkin menjadi lebih luas dari yang diperkirakan semula.

"Kami terus percaya bahwa tanggapan pemerintah global terhadap coronavirus telah agresif dan pada akhirnya harus menghentikan atau membatasi penyebaran penyakit ini, namun, sulit untuk mengetahui berapa lama sebelum jumlah kasus baru mulai turun." ungkap kepala investasi di UBS Global Wealth Management Mark Haefele.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini